Tour de Banyuwangi – Ijen – Bondowoso

Kalau ada Tour Paris – Dakkar , maka saya mencoba tour dengan bersepeda motor melewati kebun dan hutan di kawasan Gunung Ijen Banyuwangi  sampai  Bondowoso. ( Jangan lupa bawa tampar , jaga-jaga kalau ban kempes . Lilitkan tampar di peleg ).

Ngopi di PaltudingJika kita mau ke Bondowoso dari Kota Banyuwangi  ( apakah dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum) , biasanya melewati kota Situbondo atau Jember. Namun, kali ini saya mengendarai sepeda motor Honda Beat Injeksi , tahun 2012 dengan berboncengan mencoba menaklukkan sepi dan sunyinya jalur Gunung Raung (kawah Ijen) tembus ke kota Bondowoso dalam Tour de alam.

Perjalanan , kami mulai dari kota Banyuwangi pukul 07.00 wib, hari Minggu, 1 September 2013.  Matahari pagi telah menyinari kota Banyuwangi perlahan namun pasti. Cerahnya langit membuat nyaman suasana kota yang sempat membesarkan saya sampai SMPP. Hawa yang tadi malam dingin berganti hangat sehangat sruputan kopi hitam buatan adik iparku tadi. Tekad bulat harus bisa menembus Gunung Ijen , segera saya geber gas sepeda motor. Perlahan sampai di Cungking – sebuah kawasan sekolahan di kota Banyuwangi. Motor saya arahkan terus naik ke arah barat yakni ke kecamatan Glagah, yang penuh pesona persawahan. Di sini pula terkenal dengan tarian magis – Seblang yang menjadi event tahunan ketika usai lebaran . Bunyi deru mesin 4 tak Beat ini, semakin garang sebab jalanan mulai menanjak menuju ke kecamatan Licin. Di tempat ini hawa perlahan mulai menggigit dingin sebab kanan kiri jalanan sudah mulai tampak pohon-pohon sengon milik warga bahkan pengusaha. Terkadang tampak warung khas kuliner ala pedesaan berjejer ketika mendekati daerah Jelun. Warung Wader Lalapan Semanggi. Begitu saya lirik promonya. Sayang saat itu masih tutup entah karena masih pagi atau masih suasana lebaran. pintu masuk kawah ijen

Beat Injeksiku ini rupanya tangguh dan lincah juga pada jalanan yang semakin menanjak dan berliuk-liuk. Tidak perlu bersusah payah akhirnya telah tiba di desa Jambu. Desa terakhir yang padat penduduknya sebelum bertemu puncak Ijen. Di desa ini saya tidak sempat istirahat sebab belum begitu lelah dan kondisi sepeda masih aman dan nyaman. Dengan perasaan yang ingin cepat sampai di Pos pendakian para pendaki gunung terus saja tancap gas. Dinginnya hawa pagi terus menggigit tangan kanan kiri yang terus memegang stang sepeda motor. Satu persatu mulai terlewati kawasan kebun cengkeh, lalu kebun kopi dan yang paling deg-degan ketika melewati hutan belantara dengan jalanan yang berkelok , tanjakan tajam, basah dan sepi persis di bawah Pal Tuding, yang merupakan Pos Istirahat pendaki gunung.  Untungya saat saya lewati ada banyak pekerja proyek jalan sedang memperbaiki senderan  jalan terowongan tidak beratap  itu.

jalan aspal di tengah safanaAlhamdulillah, pukul 09.00 wib saya sampai di Kawasan Pal Tuding, tempat para wisatawan pendaki gunung berkumpul sebelum atau sesudah mendaki. Di tempat ini terdapat penginapan dan warung kopi serta pos parkir mobil wisata. Kawasan ini cukup datar dan lebar untuk kongkow-kongkow sambil makan mie rebus telor atau minum kopi panas, Hot Black Coffe. Pal Tuding ini tempat yang paling tinggi yang bisa dilewati kendaraan. Maka kesempatan beginilah saya gunakan istirahat bersama bule-bule nongkrong di warung sambil berjemur di bawah sinar matahari. Ke tempat ini kurang lebih berjarak 30 Km dari kota Banyuwangi dengan lebar jalan rata-rata 4 meteran, beraspal halus namun berkelok dan menanjak. Kondisi jalanan sepi, sunyi, sejuk dan dingin, cocok untuk petualangan.

Kurang lebih 30  menit kami menikmati kawasan wisata Ijen ini, perjalanan tour dilanjutkan ke arah Bondowoso. Dari Pal Tuding , Kawah Ijen Honda Beat Injeksi CBS  saya start pukul 9.30 wib. Tidak perlu gas kencang sebab dari sini jalan sudah menurun. Yang perlu gas ringan saja sambil cengkram rem belakang dan depan bersamaan jika turunan.rumput liar Syukur kondisi jalan tidak turunan tajam bahkan lebih banyak datarnya.   Tidak berapa lama  dari Pal tuding , saya bertemu dengan Padang Safana luas, hamparan rumput liar setinggi orang dewasa dengan back ground gunung Ijen di satu sisi dan Gunung Argopuro di sisi lain. Habis berfoto ria di tempat ini , saya tancap gas dan sesaat kemudian bertemu dengan Air Terjun Belerang yang eksotik dan menawan. Rupanya tempat ini adalah tempat sodetan air kawah belerang dari puncak Gunung Raung (Ijen) menuju ke sungai pembuangan. Di sini bisa kita membidik gambar dengan latar batu-batu terjal yang diguyur air belerang dari ketinggian. Kalau punya waktu boleh numpang mandi untuk menghilangkan penyakit kulit yang diderita,

Selanjutnya dalam perjalanan ini bertemu dengan kebun Kol , Kentang dan strawbery. Namun, saat kemarau ini tanaman kebun  sudah habis panen dan telah berganti dengan  tumbuhnya bunga perdu liar berwarna ungu. Indah juga rupanya menghampar bak permadani alam. Tidak lama setelah ini, terdapatlah jajaran kebun kopi di desa Blawan. Berhektar-hektar kebun Kopi ini terus akan ditemui sampai di perkebunan Capil, sebelum Sempol. Di Sempol inilah banyak perumahan penduduk layak sebuah desa kecamatan yang ada  fasilitas umum.  Di tempat ini bolehlah istirahat sejenak sambil melihat-lihat pemandangan sekitar yang dikelilingi bukit-bukit. Sementara rumah-rumah penduduk kreatif berhiaskan polibag ditanami bawang prei. Sebagai hiasan plus penghasilan.safana

Puas dengan pemandangan ala desa di pegunungan , perjalanan dilanjutkan dengan santai menuju desa berikut yakni Sumberwringin atau bisa juga ke Tlogosari. Disepanjang jalur ini , kita akan melewati kelokan kebun-kebun dan hutan heterogen. Gas dan rem adalah andalan sebab jenis sepeda saya adalah matik.  Jalur ini masih sepi rumah penduduk apalagi bengkel sepeda oleh karena itu masih ada deg-degan was-was sampai tibalah di Sumberwringin yang ramai penduduk. Lalu lanjut bertemu desa Wonosari, lalu pertigaan Ke Tapen dan Bondowoso. Rasa takut dan was-was hilang sirna berganti bahagia sebab sudah tiba di jalur utama Situbondo – Bondowoso. Maka sambil bersenandung gas digeber menuju kota Bondowoso , kota kelahiran saya. Kota Tape yang sepi namun sejuk sudah menanti saya tiba pada pukul 11 siang.

air terjun belerangSaya lihat kilometer ternyata Pal Tuding ke Bondowoso kota lebih kurang 70 Km dengan jalanan lebar 4 meter, kondisi beraspal halus , turunan dan datar. Jalur relatif berganti dari sunyi, sepi, dingin, perkebunan, perkampungan,  hutan heterogen, dan sejuk. Dengan demikian Banyuwangi – Kawah Ijen – Bondowoso berjarak 100 Km sementara kalau melewati Jalur Banyuwangi – Situbondo – Bondowoso sepanjang 140 Km.

Masing-masing jalur memiliki sisi keunggulan dan kekurangan. Yang suka tour de alam dan bermental petualang bolehlah mencoba jalur yang saya ceritakan, Banyuwangi – Glagah – Licin – Jambu – Pal Tuding – Blawan – Sempol – Sumberwringin – Wonosari – Pertigaan Tapen – Tenggarang – Bondowoso Kota atau sebaliknya. Selamat berpetualang !

bunga ungu liar

bunga ungu liar

 

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: