Kegalauan di Bulan Ramadan

Meminjam istilah yang sedang populer maka judul itu saya tuliskan. Galau yang bermakna kacaunya pikiran tidak karuan, terasa pas mewakilinya. Bukannya latah, namun itulah yang terjadi di setiap menjelang , sedang dan akan berakhirnya bulan ramadan. Kontradiksi dengan sebuah konsep idealis agamis yakni  ‘ Ramadan  bulan penuh berkah ‘. Mengapa?

1. Sebuah minoritas ditengah mayoritas adalah kegalauan pertama. Tidak dipungkiri Bali, NTT, Eropa ,dsb bermayoritas non muslim, sedangkan muslimnya adalah minoritas. Otomatis hingar bingar penyambutan datangnya bulan ramadan tidak seramai di Jawa dan Indonesia umumnya. Pasar dadakan jelang buka puasa adalah sebuah kelangkaan. Godaan  siang saat puasa tampak lebih terbuka, meski warung makan di Jawa terkadang lebih berani walau setengah tertutup ( di dalam ada pesta garpu dan sendok). Suasana ramadan di tempat tersebut tentu  tak tampak berbeda dengan bulan biasanya.

2. Budaya Slametan atau kenduri adalah urutan kedua. Sebuah tradisi kirim doa bagi almarhum/ah dalam keluarga muslim tradisional bisa berdampak galau ibu rumah tangga. Bagaimana tidak, kalau memahami ceremoni itu harus dengan masakan kenduri. Mengundang tetangga kanan kiri untuk makan bersama menjelang puasa . Apalagi pengadaannya karena malu dengan tetangga . Akhirnya -yang mendoakan arwah mestinya bisa tanpa kenduri- malah menjadi tren prestise menjelang puasa. Buntutnya anggaran dapur naik padahal belum puasa juga.

3. Karakter balas dendam adalah kegalauan ketiga. Bayangkan, tidak makan dan minum pada siang hari  dimaknai strategi untuk bisa balas dendam pada  malam hari. Para ibu rumah tangga -biasanya diamini suami dan anak-anaknya – akan menyiapkan menu khusus dalam agenda malam. Untuk buka nanti  masak ini dan itu, beli ini dan itu, yang hoby jalan dan jajan akan berwisata kuliner ini dan itu. Yang begini rupa akan merogoh kocek. Padahal yang miskin hanya buka dengan air bening ( air putih = susu) dan biasanya mereka gak puasa ramadan sebab setiap hari mereka sudah puasa sepanjang tahun.

4. Tarawih ,wow berat! Ditengah pro kontra jumlah rakaatnya tarawih tetap ibadah pilihan habis buka. Inilah problemya. Makan minum berbuka ala  balas dendam maka perut jadi gudang. Bertumpuk dan berat dibawa. Kalau sudah duduk di depan TV sambil lihat tontonan religi lupalah segalanya. Alasannya , ” Saya cukup mencari Tuhan lewat sinetron saja !  Berseri lagi, Mencari Tuhan 1, 2, 3 dan sekarang 4 lho! Imbuhnya!” Wah, gawat ni badan.

5.  Sahur, ah malas! Kalau disuruh makan dan minum yang enak dan lezat namun ogah, ya sahur. Kebiasaan bangun di tengan malam untuk  makan dan minum memang perlu adaptasi. Tidak serta merta. Yang enak saja galau apalagi yang tidak enak. ( Apalagi mereka yang fakir miskin , gak ada yang dimakan, ya?)

6. Akhir ramadan ? Lebih parah  galaunya . Menjelang akhir puasa perlahan hilang konsentrasi ibadah. Yang ada merasuk sikap materialistis dan hedonis  dalam menyiapkan lebaran. Perilaku mengumbar kantong untuk kebutuhan konsumtif menyebar kemana-mana. Ibarat virus susah ditanggulangi. Yang anak-anak , remaja, ibu bapak sampai kakek nenek tumpek bleg, campur aduk di pasar-pasar dadakan dan mall ataupun plaza. Lantas masjid dan musalla tampak maju…safnya. Wiki menulis : ” Bulan Ramadan di Indonesia dan negara dengan penduduk mayoritas Islam pada umumnya dapat dihubungkan dengan meningkatnya daya beli dan perilaku konsumtif masyarakat akan barang dan jasa. Di Indonesia sendiri hal ini terkait erat dengan kebiasaan pemerintah dan perusahaanswasta untuk memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada para pegawainya. Peningkatan ini terjadi di hampir semua sektor dari transportasi, makanan, minuman hingga kebutuhan rumah tangga. Sehingga tidak jarang tingkat inflasi pun mencapai titik tertinggi pada periode bulan ini. ”  Alih-alih betapa galaunya karena akan ditinggal ramadan namun betapa sakaunnya ( mabuknya) sebab lebaran sebentar datang.

Lalu dimanakah arti metaforis ramadan?

Menurut Quraish Shihab, ramadhan terambil dari akar kata yang berarti “membakar” atau “mengasah”. Dinamai demikian karena pada bulan ini dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar, akibat kesadaran dan amal salehnya. Atau karena bulan tersebut dijadikan waktu untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia. Kata ramadhan terdiri dari lima huruf. Pertama, ra yang berarti rahmah (kasih sayang). Kedua, mim, yaitu maghfirah (ampunan). Ketiga, dha, yang bermakna dhaman lil jannah (jaminan surga). Keempat, alif yang berarti aman min an-nar (selamat dari neraka). Kelima, nun, yang berarti nur min al-Allah (cahaya dari Allah).

Tags:

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: