Maaf, Uje! Sorry Eyang Subur!

” Maaf  Uje, sorry eyang Subur aku  bukan muridmu!”.  Pernyataan ini seolah sarkasme atau bahkan gurauan. Namun, hal ini serius bagi saya. Saya tidak pernah berguru (resmi)  kepada Ustad Jefry bahkan kepada eyang Subur bagai Adi Bing Slamet yang heboh itu. Jadi saya bukan murid Ustad Jefry , juga bukan murid Eyang Subur.

Belajar haruslah dengan guru. Dalam Ihya Ulumudin, ” Barang siapa tiada bermursyid (guru pembimbing) maka mursyidnya adalah setan”. Pernyataan ini lebih ditujukan kepada belajar hal-hal yang bersifat agama dan metafisik. Sebab dalam belajar agama tidak bisa hanya mengandalkan buku-buku, CD, Komputer, Blog, Web, serta situs-situs keagamaan tanpa bimbingan waliyam Mursyida. Ingat dalam surat Al-Kahfi, ayat 17 dinyatakan , “ Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (http: opi.11Omb.com/). 

(Lebih jauh baca opini saya tentang Peran Salihin dalam https://paktris.wordpress.com/2013/04/28/peran-salihin/.)

Mengapa? Nabi Muhammad saja belajar beragama Islam dari seorang guru. Beliau adalah Jibril A.S. Tanpa Jibril , Muhammad bin Abdullah tidak akan bisa menyebut(membaca) nama Tuhannya. Ingat  tentang turunnya Surat Al- ‘Alaq, ayat 1 , ” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan ” dst! . 

Dalam masa 22 tahun , 2 bulan dan 22 hari barulah wahyu itu selesai diturunkan oleh Jibril A.S. Betapa lamanya, betapa intensnya  seorang Muhammad berguru kepada Jibril untuk berhadapan atau kembali kepada Tuhannya. Lalu, apakah kita begitu saja belajar Islam tanpa guru, tanpa mursyid ? Bisakah kita kembali kepada Tuhan dengan bekal yang asal-asalan. Padahal Muhammad adalah teladan. Ada hal yang harus diikuti (diteladani).”  Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Al-Ahzab :21) .Meskipun kita bukan ingin menjadi Muhammad. 

Maka wajib bagi seorang muslim dalam mempelajari agamanya untuk mengambil seorang guru pembimbing ( Mursyid) dalam hal belajar agama Islam.  Yakin bila telah menemukan pembimbing maka pastikan beliau adalah Al- Ulama Pewaris ilmunya Nabi Muhammad SAW ( al ulama waristatul an biya’). Di Pulau Jawa disebutlah dengan istilah Kyai ( asal bukan Kyai Selamet , kerbaunya kraton; bukan Kyai Pleret , tombaknya Sultan Agung, bukan Kyai Kanjeng , gamelannya Emha Ainun Najib), di Pulau Lombok disebut Tuan Guru, di Sumatra disebut Abu/Buya/ Ayahanda Guru dan di Timur Tengah disebut Syekh.

Jadikanlah beliau guru dan Anda muridnya. Pinanglah beliau dengan memohon agar tidak terjadi ” Cinta bertepuk sebelah tangan- alias tidak diterima menjadi murid!”. Kalau diterima resmilah Anda menjadi muridnya. Insyallah beliaulah yang akan bertanggungjawab dihadapan Allah dan Para NabiNya kelak di akhirat.

 

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: