Kecewa Nonton Banyuwangi Etno Carnival (BEC) 2

Banyuwangi – Sejumlah seniman dan budayawan Banyuwangi protes keras ke Event Organizer (EO) Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Mereka menuding konsep kostum dengan tema re-Barong Using dianggap melenceng jauh dari pakem dan tradisi Kesenian Barong Using itu sendiri.(http://surabaya.detik.com,Senin, 29/10/2012 08:16 WIB).

Banyuwangi, yang saya kenal negeri Blambangan kaya akan budaya tradisional beserta senimannya. Barong, Gandrung, Seblang, Kuntulan, Angklung caruk, Janger, Aljin, Jarang Kepang,dll adalah beberapa  seni yang populer  itu. Kini hanya Aljin lah yang tidak dikenal lagi. Sementara yang lain masih eksis, apalagi yang bernama Barong dan Jaran Kepang.

Barong Tradisional

Seni yang atraktif dan bernilai magis ini bila tampil dalam karnafal akan meminggirkan penonton tanpa disuruh oleh polisi. Penonton akan waspada bilamana terjadi trance atau kesurupan atau dadipara pemainnya. Pukulan kendang yang menghentak-hentak serta suling melengking seolah  memanggil roh-roh danyang. Siulan penonton akan membuat aktor barong dan jaran kepang akan mengejar membelah kerumunan (biasanya diikat oleh pawang agar terkendali). Di sinilah waspadanya penonton , asyik sekaligus tegang. Penonton akan tertib minggir dan tidak berani menghimpit jalanan peserta karnafal. Kalau tidak , Kepala Barong (topeng/tapak) yang terbuat dari kayu keras bisa mengenainya. Itulah karakter Barong dalam karnafal.

rumbai-rumbai

Sayang seribu sayang. Banyuwangi Etno Carnifal (BEC ) 2 , yang digelar Pemkab Banyuwangi pada hari Minggu , 18 November 2012 tidak seasyik dan setegang dalam bayangan saya ketika harus nonton karnafal Barong. BEC 2 hanyalah sebuah even fashion rumbai-rumbai , pernik-pernik manik-manik dan mote yang kalau di Jember bernama Jember Fashion Carnafal (JFC). Ini barangkali yang diprotes seniman dan budayawan Banyuwangi. Sebuah kesan glamor berkelas modern namun miskin karakter tradisi.Bahkan ada yang menyebut dalam blognya melecehkan seniman Banyuwangi (http://hasansentot2008.blogdetik.com).

narsis

Padahal untuk menarik turis manca atau turis lokal tidak mesti ikut-ikutan Jember – yang mungkin seni tradisionalnya tidak sekaya Banyuwangi. Ingat bahwa turis manca akan lebih surprise / heran/ kagum dan lebih menghargai karya unik lokal tradisional – yang dinegaranya tidak pernah dikumpainya. Ilustrasi : Sangatlah basi kalau  mereka datang ke Banyuwangi  disuguhi Pizza / burger/ keju. Tapi, justru lempog / cenil/Orog-orog/ Bagiak/ atau rujak soto yang membuat  mereka penasaran. Memang, dalam BEC 2 ada dua buah kumpulan  seni barong tradisional namun tidak sebanding dengan rombongan rumbai-rubainya yang berjibun ( ada warianya lagi ).

Hal yang mengecewakan kedua adalah tidak akuratnya informasi Web Pemkab Banyuwangi. (http://www.banyuwangikab.go.id) yang saya unduh Sabtu, 17 November 2012.(Web adalah media utama  info bagi kami yang berada di luar kota).

……………………

DETAIL EVENT..
Event        : BANYUWANGI ETHNO CARNIVAL
Hari/tgl    : Minggu, 18 November 2012
Jam        : 12.30 – 15.30 WIB.
Lokasi        : Start di JL. Veteran (Taman Blambangan) – Jalan Diponegoro – Jalan
Dr.Sutomo – Jalan A. Yani – dan Finish di Kantor Bupati Banyuwangi.

…………………….

Faktanya, rute berubah yakni Taman Blambangan – Susuit Tubun – PB Sudirman – A. Yani – Kantor Bupati.  Lalu jam berangkat  menjadi  kurang lebih jam dua siang.( Weleh…weleh…heng entek-entek karete….)

Kekecewaan lain, penonton bahkan fotografer yang terlalu narsis/lebay. Mengerumuni peserta , menutup akses jalan peserta, berfoto-foto konsumsi HP / FB adalah bentuk – bentuk penghambatan jalannya karnafal. Polisi dan petugas tidak bisa berbuat banyak karena banyaknya penonton yang norak ( dan jalanan sudah di pagar terali ). Ditambah fotografer yang ikut mengerumuni peserta. Padahal kameranya bisa di zoom atau dilup. Ah,  dasar ABG ! ( Anak Bawah G…). Situasi di Barat Hotel Bakti.

Pada akhirnya – dalam status jejaring sosialnya – salah satu seniman dan budayawan Banyuwangi yang ikut protes ( versi surabaya.detik.com ) menyatakan bahwa BEC 2 lebih sukses dari BEC 1. Sayang, saya tidak sempat menontonnya.

pantang mundur meski lebat mengguyur

By The Way : Saya salut dengan kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap sebuah pagelaran , meski hujan lebat mengguyur jalanan karnafal penonton tidak bergeming dan hujan-hujanan sekalian.  Wau…mak nyus!

Tags:

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: