Archive for March, 2013

12 March 2013

NYEPI DAN FENOMENA HEMAT POLUTAN

Aktivitas manusia berbanding lurus dengan pemborosan. Baik dalam hal mikro bahkan makro. Setiap hari manusia beraktivitas tanpa lepas dengan BBM. Berkendara ke sekolah , ke kantor , ke kebun bahkan belanja ke warung sebelah rumah juga tidak lepas dari sepeda motor. Kalau manusia bertingkah laku sama maka bisa dihitung berapa konsumsi BBM setiap manusia, setiap masyarakat, dan akumulasinya berapa konsumsi BBM sedunia. Global impacnya berapa jumlah pembuangan yang dihasilkan knalpot sepeda motor sedunia pada setiap harinya. Itu baru sepeda motor, belum mobil belum juga cerobong asap pabrik. Hal inilah yang selanjutnya menjadikan efek rumah kaca.

Dalam literature Wikipedia menyebutkan  bahwa efek rumah kaca disebabkan  naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

Energi yang masuk ke Bumi ,25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer, 25% diserap awan, 45% diserap permukaan bumi, 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi.

Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.

rafflesia.web.id

rafflesia.web.id

Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.

Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

                Tak syak lagi bahwa iklim ekstrem yang telah terjadi akhir-akhir ini adalah buah tangan manusia secara umum. Angin puting beliung sampai semua badai yang bernama mirip nama para artis yang melanda beberapa tempat di tanah air dan daratan Amerika disebabkan ulah  manusia itu sendiri.

                Lalu mengapa kita tidak berpikir mulai sekarang juga bahwa ulah kita yang menghambur-hamburkan pembakaran BBM dihemat sejenak (kalau tidak bisa dihentikan secara permanen). Misal, dalam satu hari ada gerakan bersama secara global (mendunia ) yakni MOTOR FREE DAY atau CAR FREE DAY atau FACTORY FREE DAY. Mengapa harus GANGNAM STYLE atau HARLEM SHAKE yang digaungkan yang justru menghamburkan energy listrik ?

                Maka contoh yang sudah berhasil dalam penghematan BBM adalah adanya satu hari car free day di kota-kota besar dan yang paling fenomenal adalah HARI RAYA NYEPI DI BALI yang dilaksanakan setiap tahun sekali. Car Free Day yang diadakan pemerintah kota dalam rangka meminimalisir polusi, baik polusi udara maupun suara sudah bagus namun perlu diperluas wilayahnya. Sedangkan hari raya Nyepi , yang mematikan segala aktivitas yang tercakup dalam amati geni (tidak menyalakan api), amati  lelanguan ( tidak mengumbar nafsu), amati karya (tidak beraktivitas) dan amati lelungan (tidak bepergian) bisa mengerem jumlah polutan dari BBM se – pulau Bali.

Jauh kita bayangkan bagaimana seandainya seisi dunia mengerem penambahan  polutan dunia dengan satu cara yakni NYEPI GLOBAL PEMBOROSAN BBM dalam GSO DAY’s Atau GLOBAL SILENT ONE  DAY’s.

PEACE AND SILENT FOR THE WORLD!

10 March 2013

Oligarki

Kata politik identik dengan hal siasat atau strategi. Namun belakangan embel-embel licik dan kotor juga menemani kata politik itu sendiri. Hal ini tidak terlepas dari perilaku politikus yang terekspos di media selalu yg berbau negatif.Misal, terlibat korupsi dan konspirasi. Meski sejatinya politik bisa dieksplore sisi positifnya. Nah, trade mark yang sudah terlanjur melekat lalu menjadi stigma masyarakat umum bahwa politik itu berkarakter negatif dan bermakna mementingkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sampai-sampai ada jargon politik yang mengatakan bahwa tidak ada kawan dan lawan , yang ada hanya kepentingan. Begitu kuatnya stigma ini sehingga bisa mengalahkan hal-hal positif dari makna politik itu sendiri.

austincrhonicle.com

austincrhonicle.com

Demikianlah yang terjadi manakala kehidupan masyarakat umum – segala lini- dlingkupi oleh aura politik. Syukur kalau  aura positif . Nah ,ini  yang negatif. Kebijakan yang seharusnya jauh dari sisi politik menjadi bias setelah terpengaruh aura politik. Politik sudah menjadi urat berakar dalam semua sendi kehidupan. Ibarat kanker stadium empat, menjalar kemana- mana. Yang paling tampak adalah politik mempengaruhi kebijakan para pejabat pendidikan.

Sejatinya dunia pendidikan yang lebih erat dengan dunia moral tak urung mendapat imbas tidak langsung dari pejabat politik. Bagaimana tidak kalau dinas pendidikan kabupaten berada dibawah kewenangan para bupati. Sedangkan bupati adalah kepala daerah yang diangkat oleh masyarakat atas wilayah politik. Secara normatif hitung-hitungan politik tentu ada program balas jasa dan investasi pencitraan. Balas jasa sang bupati kepada tim suksesnya dengan pengangkatan kepala dinas yang pro. Bahkan bisa diiringi pendepakan kepala dinas yang lama sebab kontra . Lalu investasinya berbentuk reward jabatan itu akan menjadi kantong-kantong suara dan kantong-kantong pencitraan atas keberhasilan kerja para bupati. Hal inilah yang tampak konyol manakala dunia pendidikan dibawa masuk ke dalam sistem balas jasa dan investasi pencitraan.

Pendidikan yang seharusnya bebas dari intervensi eksternal menjadi tidak nyaman dalam mengawal nilai-nilai edukatif. Misal, menanamkan kejujuran kepada peserta didik. Jujur dalam menjawab soal adalah sekelumit butir nilai yang harus ditanamkan seorang guru. Sebenarnya hal ini mudah djalankan oleh seorang guru.Misal, Ujian Nasional. Tinggal diawasi lalu ditunggu laporan jawaban siswa. Selesai sudah. Tapi ternyata sulit diterapkan. Guru yang nota bene pelaksana tingkat bawah sadar akan sendiko dawuh  kepala sekolah. Kepala sekolah juga harus mengamini apa kata kepala dinas. Dan wejangan kepala dinas sebagai corong investor pencitran itu cukup mengatakan bermainlah yang cantik. Kalimat inilah yang kemudian menjadi multi tafsir. Dalam bahasa gaul , “Maksud lhoh !”

Tags: