Gempa Bali Menyapaku

Kamis, 13 Oktober 2011 ada pertobatan masal. Khususnya di Bali dan seputarnya. Saat itu kurang dari satu menit kita ramai-ramai ingat dan menyebut nama Tuhan, Sang Hyang Widhi- Yesus- Allah atau apa saja. Entah sadar atau hanya sekadar latah atau memang benar-benar dilupakan oleh kondisi. Nama Sang Tuhan hanya hadir sesekali ketika bencana telah datang. Gempa , Badai, Tsunami hanyalah sentilan pencipta semesta agar kita sadar. Bahwa bumi dan seisinya hanyalah secuil upil ditelapak tanganNya. Ketika Dia ingin kibas karena upil itu telah bertambah kotor oleh kotoran manusia maka siapa yang sanggup melarangNya. Syukur sang khalik masih sayang pada semua. Tak jadi menjadikan porak peranda menjadi rata dengan tanah lapangan puputan Margarana. Alhamdulillah- terimakasih tuhan.

Memang, sejatinya dunia ini adalah nenek-nenek yang sedang berhias, penuh gemerlap kalung gelang dan anting-anting berlian keemasan. Tua nan cantik. Dimana-mana gegap gempitanya pembangunan meraja lela. Dari rumah kita sendiri , real estate sampai puncak suar menara tinggi didirikan. Eifel di Prancis, Liberty di Amerika, Monas Jakarta, Menara Kembar, bahkan Menara Dubai yang menjulang menyapa langit. Belum lagi di malam hari.Kelap- kelip lampu kota bagai butiran intan permata terhampar di gelap malam tampak dari bebukitan. Indah menawan melupakan segalanya. Bak putri kayangan yang menarik hati sang pangeran. Dunia dicinta dan dipuja.

Bumi adalah Nenek Cantik Berkalung Berlian

Sah-kah itu?

Mustahil kita hidup tanpa dunia. Dunia adalah air lautan bagi si ikan. Tanpa air laut maka si ikan akan lunglai lalu mati. Ikan sangat membutuhkan air laut untuk bisa survive. Tapi perhatikan ketika ikan harus mati terangkat oleh kail dan jala. Air laut yang melimpah tidak sanggup dibawanya. Bahkan setitik pun tersisa di kulit akan kering musnah oleh panas , itupun air tawar badannya. Air laut tetap tertinggal di cekuan bumi yang menjadi takdirnya wadahnya.

Demikian kesanggupan kita membawa dunia. Hanya kain kafan atau peti mati saja. Selebihnya hanyalah amal di badan yang harus bersama menghadapNya. Amal ketika punya dunia. Harta yang kita miliki harusnya dijadikan amal perbuatan ataupun berdarma. Sehingga air laut itu menjadi air tawar di badan sang ikan. Itulah yang akan kita bawa kelak! Wallo hu a’lam!

Tags:

2 Comments to “Gempa Bali Menyapaku”

  1. ya itulah kebesaran Tuhan saudara, hanya sebuah peringatan kepada umat manusia agar manusia itu ingat ( Eling ), dan memang dunia sudah mulai rapuh…. bak kayu yang sudah mulai dimakan rayap… lama-lama akan patah juga. Ternyata benar apa kata kang Ebiet G. Ade mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa kita atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita….. coba kita tanya pada diri kita sendiri apa yang sudah dan pernah kita lakukan ……. itu membuat kita Eling…… Eling…. dan Eling…..

  2. trms komennya kangg cholig …eling lan waspodo…

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: