Kafir adalah Karakter

Ilustrasi Menggelitik : 

Suatu saat , saya berada dalam satu angkutan umum dengan pasangan muda-mudi ,orang bule ( maklum bule-bule banyak lalu lalang di Pulau Bali). Setengah perjalanan , bus berhenti ngetem. Lalu salah satu si bule turun untuk membeli biscuit . Dia bawa makanan itu ke dalam bus, dibuka kemudian mereka makan bersama. Bus pun berjalan lagi.  Yang menarik bahwa bungkus biscuit itu tidak dilemparkannya ke luar jendela bus atau dibuang begitu saja , namun dimasukkannya ke saku celananya. Hemm, jelas dia tidak beragama Islam  tetapi berkarakter Islam. Mengapa ? Dalil pertama yang mereka terapkan , “ Kebersihan sebagian dari Iman”. Bagaimanakah kalau kita? Akankah  memasukkan ke saku celana atau membuang ke luar jendela bus?

Asal Makna

Kāfir (bahasa Arabكافر kāfir; plural كفّار kuffār) secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Dalam terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur)( 1.)

Ar- Raghib Al- Isfahani ,seorang pakar bahasa Al- Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata “syukur” mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan”. Kata ini  – tulis Ar-Raghib – menurut sementara ulama berasal dari kata “syakara ” yang berarti ” membuka ” , sehingga ia merupakan lawan dari kata ” kafara ” (kufur) yang berarti menutup – (salah satu artinya adalah ) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya. (2)

Sedangkan  Qur’an menyatakan sebagai berikut :

                                                              وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِلْكَافِرِينَ عَرْضًا

                                                                                                                  dan Kami nampakkan Jahanam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas.(3)

                                     الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي وَكَانُوا لا يَسْتَطِيعُونَسَمْعًا

yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.(4)

Dengan demikian makna kata kafir tidaklah berhubungan  dengan orang yang bukan beragama Islam ( non Muslim). Kafir lebih mengarah  kepada makna (karakter)  tidak mau membuka diri terhadap nikmat Tuhan yang telah Dia berikan. Siapapun orangnya. Apakah seseorang itu beragama Islam atau tidak.  Mata hati mereka tertutup karena tidak sanggup mendengar dan merasakan kebenaran Ilahiyah. Karakter inilah yang disebut kafir.

Apakah orang yang tidak beragama Islam semuanya tidak beriman, semuanya laknatullah, atau semuanya ahli neraka? Belum tentu. Kita harus berhati-hati sekali karena ada ayat-ayat ini dalam Al-Qur’an.

Q.S. 3:199, “Dan sesungguhnya di antara para ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Rabb-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungannya.”

Q.S. 3:113, “Mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” Q.S.3:114, “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan bersegera kepada mengerjakan kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”

Dan yang membuat kita harus lebih berhati-hati lagi, camkanlah bahwa tidak semua orang yang ber-Islam dengan sendirinya telah beriman. Kita perhatikan ayat berikut ini:

Q. S. 49 : 14, “Orang-orang Arab (badui) itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah ber-Islam’ (perhatikan teks Qur’an-nya: ‘aslamna’ artinya ‘kami telah berserah diri’, di terjemahan Indonesia menjadi ‘kami telah tunduk’), karena iman itu belum masuk ke dalam qalb-qalb mu (quluubikum)…”
Perhatikanlah pada ayat di atas, bahwa beriman hingga masuk ke hati itu setingkat di atas tingkatan Islam. Dengan demikian, bisa jadi seseorang telah ber-Islam, tapi belum tentu dia memiliki iman.

Jadi menurut saya, mengatakan kafir pada orang lain meskipun mudah di lidah, bisa jadi merupakan hal yang beresiko besar untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak. Di sisi lain, kita tidak perlu marah jika seandainya dihujat sebagai kafir, karena sangat mungkin memang masih banyak kekufuran dalam diri kita ini. (5)

Lebih jauh mengkufuri Tuhan akan mendapatkan siksa. Qur’an Surat An-Nahl , ayat 112 serta Surat Saba, ayat 17 menyatakan hal itu.

Berbeda apa yang akan didapat bila kita berlaku( berkarakter ) syukur, misal :

  • An Nahl (16) ,ayat 14 : Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
  • Ibrahim (34), ayat 17 : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Bentuk azab yang pedih itu bisa saja akan datang kalau karakter kita tidak mau bersyukur. Contoh sederhananya, membuang sampah sembarangan – dan ini telah banyak dilakukan  banyak orang  – pasti akan menyebabkan banjir. Banjir datang adalah salah satu  bentuk azab yang pedih. Rumah hanyut, harta benda berantakan berkalang lumpur, hidup pun tak nyaman di area pengungsian dan buntutnya ibadahnya pun tidak tenang berkepanjangan.

Maka tirulah , karakter bule dalam  ilustrasi di atas !  Mereka   bukan  kafir juga  tidak beragama Islam. Sebaliknya , introspeksilah diri kita, bahwa beragama Islam namun berkarakter kafir!

Keterangan :

1.(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kafir.)

2. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran (tahun 1996)

3. Q.S Al -Kahfi, ayat 100

4. Q.S Al- Kahfi, ayat 101

5. Petikan artikel ” Makna Kafir dan Syuhada ” (http://netlog.wordpress.com/category/makna-kafir-dan-syuhada/)

 

Tags: ,

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: