Miss World atau Mind Set ?

Fakta IPTEK  menampakkan bahwa sedekat-dekatnya radio dengan studionya kalau tidak disinkronkan gelombangnya (frekuensinya)  tidak akan pernah nyambung. Sebaliknya sejauh-jauh jaraknya bila disinkronkan frekuensinya akan nyambung juga.  Contoh lainnya, dekatkanlah HP yang satu dengan HP yang lain. Tanpa sinkronisasi jangan harap bisa kringggg! Namun jauhnya HP yang satu, jika disinkronkan –  sampai kuping kita panas dan bibir dower  – bolehlah kita berkomunikasi ( asal syarat dan rukun terpenuhi).

careerrocketeer.comIni artinya bahwa jarak bukanlah hal mutlak untuk menghubungkan diri. Tetapi konsentrasi pada tujuan atau target menjadikan frekuensi yang menyingkronkan pikiran dengan tujuan tersebut sehingga menimbulkan obsesi. Pendeknya, jarak  jauh atau dekat tidak menjadi soal tetapi kemampuan mengelola/menyetel pikiran itulah yang menjadi persoalan. Mind Set , demikian kalangan akademisi menyebutnya.

Fakta empiris berbicara bahwa saya yang berada di Kabupaten Buleleng ( 150 Km dari Nusa Dua, Bali ) tidak pernah terobsesi akan Miss World yang diselenggarakan di Nusa dua. Ini terjadi karena mind set ( setelan pikiran saya) tidak terkonsentrasi kepada hal itu. Sehingga tidaklah nyambung akan hal itu sampai pada titik di mana diributkannya Miss World ini, yang membuat mind set tergelitik juga akan hal itu. Hal ini saya yakini juga akan terjadi pada publik yang tinggal di kota Denpasar (radius lebih dekat dengan Nusa dua). Publik akan asyik masyuk saja bergelut dengan dunianya yang berurusan dengan perut. Di tengah hiruk pikuknya kota Denpasar yang mulai semrawut , publik nggak ngeh Miss-missan itu. Kecuali – mungkin – segelintir orang yang mind set nya sudah disinkronkan ke arah sana. Kalaulah demikian, meskipun jarak ribuan kilometer dari Nusa Dua tetaplah konek dengan dunia itu.

Sebut saja , bila Anda tinggal di Petamburan ,  Jakarta ( 1500 Km  dari Bali)  lalu pikiran Anda selalu tertuju kepada Miss world. Maka  pikiran Anda akan berkonsentrasi dan menjadi obsesi yang pada akhirnya akan terkoneksi dengan dunia Miss World itu  lalu membentuk halusinasi image sesuai daya tangkap pikiran Anda. Kontes wanita cantik, seksi, berbikini sampai full body ? Hemmm…imagination thingking! Mengapa tidak dikembangkan kemudian  menjadi positif thingking atau dalam bahasa Arabnya Husnuzon dan bukan berprasangka buruk atau suuzon . Sebab siapa tahu kaum yang diprasangkai buruk itu lebih baik dari yang berprasangka?  Syeikh Abdul Qadir Al Jailani berkata : ” Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu!”. Maka siapa sangka seorang pelacurpun bisa ahli surga sebab memberi minum anjing kehausan.

Sebut saja, bila saya dalam mind set sampai ke lubuk paling dalam berimajinasi blaraan sampai ke sudut remang-remang gang Dolly di Surabaya, atau pada adegan ngangkang di Saritem, Bandung atau bahkan sampai pada  tenda-tenda  biru mesum ,di sepanjang bantaran kali Angke ,  Grogol, Petamburan,  Jakarta Barat. Pertanda ,itulah kesalahan saya dalam menata pikiran. Saya yang berada di Singaraja, Bali telah salah berimajinasi. Salah dalam obsesi. Liar dalam berfantasi. Lebih parah lagi bila saya kemudian menghakimi iblis dan sekutunya. Baik yang Dolly, Saritem atau di Petamburan. Sebab, yang tinggal  dekat tempat itu sendiri  – tentu ada yang  tidak ngeh dengan dunia pelacuran itu – sehingga mind set mereka tidak konek dengan hal-hal itu. Lihat saja eksistensinya, di surabaya banyak para kyai  dan pondok pesantrennya. Di Bandung ada A.A Gym. Di Petamburan ada Habieb . Jadi, fakta IPTEK di atas sejalan khan dengan fakta empiris?

Fakta lekture religius  mengisyaratkan bahwa syetan itu tetaplah hidup sepanjang dunia terkembang. Tidak ada yang bisa memusnahkannya kecuali telah tiba saatnya. Itu adalah garansi Tuhan menghidupkan Iblis guna menggoda anak cucu Adam. Justru dengan adanya bisikan syetan maka kita tahu apakah kita termasuk beriman atau tidak? Kita termasuk tahan godaan atau terbujuk rayunya. Parang, pedang , senjata bahkan bom bukan tandingan pengusir syetan. Hanya kalimat – kalimat suci atau toyyibah , yang memasrahkan kepada Allah sajalah yang bisa mengusirnya. Ini adalah pilihan hidup. Left or right.

Manusia bukanlah Tuhan, yang bisa memutihkan seluruh isi dunia, lalu menjadi suci semuanya. Maka biarkanlah dunia dengan beragam warna, sehingga menjadi indah seindah coretan warna-warni lukisan sang Maestro!

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: