Aqu – Lou dan Gue, Gitu Lhoh….

Behaviorisme menyatakan bahwa ada Stimulus – Respon dalam perilaku pembelajaran. Tokoh teori ini yakni Gage dan Berliner. Pembiasaan reaksi dari diri anak-anak setelah dipancing(penguatan) oleh eksternalnya. Terjadi perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalamannya.  Contoh sederhana , bila setiap hari pada waktu yang sama kita membuka dapur lalu menebarkan biji-bijian maka ayam-ayam selalu meresponnya. Esok hari pada waktu yang sama demikian juga. Hari-hari berikutnya , kemunculan kita akan ditunggunya. Padahal sebelum diberikan penguatan itu, ayam liar dan tidak pernah menunggu di depan pintu dapur. Mario Teguh pernah menyimpulkan bahwa perubahan perilaku anak manusia ( uji coba pada bayinya sendiri) memerlukan waktu 5 hari .

Psikologi semacam ini sudah terjadi pada peserta didik. Kalimat, ” ...aqu, lho, gue , gitu lhoh! “, adalah hal yang lumrah didengar pada pergaulan siswa-siswi sekarang. Sedangkan diksi saya, kamu ,dan begitu tidak mudah lagi terdengar.  Indikatornya, berapa kali siswa keceplosan mengucapkan aku saat berbicara dengan guru? ( situasi lokal sekolah kami). Puncaknya, ketika para siswa mendapat tugas Mapel Bahasa Indonesia dengan KD Pemeranan Drama, mereka lebih enjoy mengatakan lou – gue ( tapi bisa ditoleransi mengingat drama adalah ekspresi bahasa percakapan). Namun, di balik itu kefasihan dan kenyamanan melafalkannnya menandakan keterbiasaan penyebutan diksi itu.

Referensi – korelasi :

 Bagaimana tidak mengubah penampilan bahasa anak ( di desa ) kalau yang diaksesnya adalah tontonan ibu kota ? Sinetron ala gaul pada setiap chanel televisi selalu menstimulus setiap harinya. Bahkan tidak hanya sinetronnya, acara yang lainpun berbau miring dalam penggunaan bahasa Indonesia. Maka muncul istilah gaul yang disukai anak- anak muda (termasuk siswa-siswi kita, khan?) yakni bahasa alay dan lebay.

Akses lainnya sms, chat, kamfrog, yahoo mesengger, skpe, twitter, face book dan produk – produk lain teknologi kekinian mudah diakses dan fleksibel tinggi. Lentur dengan bahasa gaul yang mudah diplintar-plintir. Sah-sah saja memang, apalagi bahasa adalah konvensi – kesepakatan publik. Sepanjang disepakati dan dimengerti olah masyarakat – so what gitu lhoh ?Oleh karena itu , kita bersiap menuju era tampilan bahasa digital daripada penggunaan bahasa verbal. Alias : Berkomunikasi dengan orang lain tanpa pakai mulut. Hemmm, bagaimana jadinya, ya?

Tags:

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: