14 September 2018

Kematian, harus dirayakan?

isSelasa, 11 September 2018 adalah awal tahun baru dalam kelender Hijriyah. Berganti tahun yang semula tahun 1439 H, kini 1440 H. Apa masalahnya? Apakah kita merasa suka sehingga harus menyulut kembang api untuk merayakannya? Ataukah sekadar pawai obor sebagai antitesis perayaan pergantian tahun baru masehi?

Keduanya sama. Umur kita berkurang. Padahal seolah bertambah. Beranalogi kepada jalannya mobil di jalanan. Seolah pohon dipinggir jalan yang bergerak. Padahal mobillah yang melaju.

Andai telah ditetapkan bahwa daun nama di atas langit gugur pada tahun 1950 Hijriyah, maka rentang waktu yang tersisa hanya 10 tahun. Setahun lagi tinggal 9 tahun dan seterusnya. Begitu seterusnya maka jatuh tempo pada akhirnya. Is death, mati menjadi seonggok bangkai yang menjadi santapan cacing tanah, sebut  Rhoma Irama.Lalu hinjrahlah kita ke alam lain. Siapkah kita? Maka bebaslah kita dari beban dunia. Lepas dari kungkungan harta benda dunyo brono. Bahagia mestinya tapi sanggupkah merayakannya?

Hemmm, agak susah menjawab, Yes…Yes….dengan loncat kegirangan! Apa pasal? Kita tak pernah benar-benar tahu sudah berapa kilo gram makanan di tas ransel ketika mati? Berapa galon air sebagai pelepas dahaga tat kala kehausan nanti? Aduh…….

Hayo, kawan….bergegaslah! Bertebarlah,lalu kumpulkan bekal! Timbun sebanyak-banyaknya! Kalo bisa jangan cuma kiloan. Berton-ton yah!

Wallohua’lam!

9 September 2018

Habis Gelap Terbitlah Terang

Saat pilkada DKI 2017, media mainstream atau media arus utama terus membentuk opini kita. Kedua kubu disekat dengan dua perbedaan yang sangat ekstrim. Bahwa kubu petahana itu menjadi protagonisnya, sedangkan penantangnya adalah antagonisnya. Hembusan media itu terus menerus menggempur ruang baca kita. Akibatnya, literasi kita menjadi sempit namun kuat menggumpal dalam pikiran sehingga opini kita tidak lagi fair, bisa-bisa darah pun membeku di otak. Tersugesti bahwa petahana itu tokoh yang memerankan kebaikan sebaliknya tokoh jahatnya adalah lawan politik petahana. Keadaan ini terus mengungkung kita bahkan sampai proses pilkada pun sudah selesai. (Memang dahsyat…media itu!!!)

Bentukan opini publik dari media mainstream tersebut dengan masif membentuk mindset, pola pikir masyarakat. Termasuk masyarakat di luar DKI dan bukan orang DKI yang tidak terkait langsung dengan pilih memilih gubernur DKI saat itu.( Review: Lucu juga sih…..ngapain mereka ikut campur, ya?)

Pola pikir seperti ini adalah pola pikir tidak wajar, keliru dan tidak ilmiah. Sebab, mindset kita terhipnotis oleh media yang tendensius (punya tujuan tertentu) atau info yang belum tentu kebenarannya alias hoax. Hoax itu bisa saja bersumber dari pro petahana atau penguasa. Bisa juga berasal dari pro oposisi atau penantangnya.

3)

sumber gb:multi-persada.com

Jika kita adalah warga yang suka menjunjung kebenaran informasi, maka kita tergolong orang yang intelek dan ilmiyah. Ini biasanya sifat orang yang berkecimpung dalam dunia akademik. Tidak mudah percaya dan selalu ingin bertindak secara ilmiyah. Langkah yang ilmiyah salah satunya adalah menggali informasi pendamping yang tidak sejalan dengan informasi awal. Singkat kata ada informasi dari media yang kiri. Carilah juga bagaimana menurut media yang kanan. Dengan begitu pola pikir kita akan menjadi jernih,  cerdas dalam berpikir dan bertindak, lalu hati nurani terang bercahaya oleh kebaikan. Insyaallah, selamat dari penyakit darah tinggi serta stroke! Amin……

8 September 2018

Sekrup dan Tawaf

Tampak dalam tayangan bahwa berjuta jemaah haji sedang tawaf. Kegiatan berlari kecil mengelilingi bangunan Ka’bah di sebelah kiri. Berlawanan arah jarum jam. Apa makna gerakan ini?hp_ctg99659-151006

Beranalogi dari gerakan membuka sekrup, akan diputar ke kiri untuk melonggarkan bahkan melepaskannya. Sebaliknya gerak ke kanan akan merapatkan atau menutup. Sederhana nyatanya, namun makna  dalam. Manusia harus mampu introspeksi yakni harus melonggarkan nafsunya. Melepaskan diri dari ikatan dunia. Lalu fokus pada sang pencipta.

Harapannya adalah dapat melepaskan diri dari cahaya gelap dunia lalu masuk ke dalam cahaya terang benderang Iman, Islam, dan Ikhsan, sebagaimana termaktup dalam salah satu doa tawaf, Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni dan amal shaleh yang dikabulkan dan perdagangan yang tidak akan mengalami rugi selamanya.

Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terkandung dalam dada. Keluarkanlah aku dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang. Ya Allah aku mohon padaMu segala hal yang mendatangkan rahmatMu dan segala ampunanMu selamat dari segala dosa dan beruntung dengan mendapat rupa-rupa kebaikan, berundung memperoleh surga, terhindar dari neraka. Tuhanku anugerahkan padaku dan gantilah apa-apa yang aku luput daripadanya dengan kebajikan dariMu.” 

Wallohuaa’lam!

 

8 September 2018

Ongkos Kirim 5000

Sudah dua hari yang lalu, kurs rupiah nyungsep ke Rp 15.000 terhadap dolar Amrik. Salah satu komentar netizen di twitter, itu hoax. Yang bener adalah beli rupiah 10 ribu, ongkirnya 5 ribu. wkwkwk….

Bisa jadi ini sebuah gaya bahasa ironi. Yakni gaya bahasa sindiran agar tidak menusuk hati. Model guyon, maksut maknanya serius. Bahwa netizen mulai bosan dengan kalimat yang baku seorang kritikus. Sebab kritik seorang pakar saja tak bisa menembus kuping pemerintah. Apalagi hanya seorang netizen, rakyat biasa yang hanya bergulat dengan kehidupan sesuap nasi. Belum lagi, banyak menteri yang  seharusnya menjaga marwah mandat dengan perkatan berbasis data, justru omongannya mencla-mencle model dagelan ludruk suroboyoon. Mosok rek, rakyat gak iso tuku daging kon mangan bekicot! Beras mahal ya suruh nawar! Tabiye mahal, orahin nanem bedidi! ( Dah, bahasa campur dah, Jawa ya Bali).

Lah, kalau rakyat mengharap langkah serius kok malah dagelan, ya gak usah jadi mentri kali. Tukang becak di prapatan juga bisa. Gak usah tinggi-tinggi sekolahnya sampai ke luar negeri segala. Lah menteri itu dipilih karena dirasa cakap menangani persoalan. Mampu, cakap, dan layak. Gitu, lho!!!!

Kalau gak mampu, mestinya cukup lapor, ” Pak Presiden gak sanggup saya. Mohon carikan pengganti saja!”

Cukup begitu saja, gak usah dagel apalagi ngeyel. Jadi rakyat gak niru. Iya toh?????

 

 

 

7 September 2018

Prostitusi (On Line)

isDunia maya (dumay) atau internet adalah nyata kemajuan teknologi. Hal ini pun tidak bisa kita hindari apalagi dijauhi. Yang pasti harus kita nikmati. Kapan lagi , kalau tidak sekarang?

Namun, ibarat sebilah pisau- berhati-hatilah menggunakannya. Pisau pada dasarnya bersifat netral. Tidak berpihak kepada sudut kiri maupun sudut kanan. Bila, ia dipegang tangan yang baik akan bermanfaat banyak. Untuk mengiris sayur di dapur bahkan memotong dadu daging sebagai lauk pauk. Sebaliknya, bila ia di tangan pembunuh akan menjadi luka tusuk yang menghilangkan nyawa orang lain. Penjara atau bui menjadi hotel prodeo tanpa fasilitas seperti koruptor yang dipenjarakan.

Menikmati dumay harus bijak. Jujur menikmati seperti hubungan sah suami istri. Ada ritmenya tersendiri antara memberi dan menerima dengan tulus seiirama emosi kerumahtanggan yang menyertai. Di sini dibutuhkan pengertian kedua belah pihak untuk langgengnya rumah tangga. Tidak ada titik kalah dan menang antara suami istri. Yang ada hanya bagaimana membawa biduk rumah tangga itu bersama-sama. Sedang kenikmatan begituan itu hanya satu titik taman untuk menghias sudut halaman rumah tangga.

Berbeda dengan kenikmatan semu, dalam lebel prostistusi(on line) misalnya. Pelangga hanya mikir begituan, pikiran sempit. Urusan rumah tangga jauh panggang dari api. Nikmat sesaat bisa dibeli. Kalau beruntung, tak kena penyakit kelamin, tetap aja dosa dilaknat Tuhan. Jadi berpikirlah dua kali, bila hati nurani sehat.

Bermain dalam dumay, janganlah sesaat. Berpikir sempit. Bisa beli,lalu nikmati sendiri. Masa bodoh dengan yang lain. Caci maki dituruti. Pencitran diri. selfi-selfi. Cekrek bagi-bagi . wajah mulus tanpa jerawat. Kenyataannya berbalik cermin. Kalau gak difoto gak afdol. Kurang nikmat. Kurang syurrrr!

Apa bedanya dengan prostitusi? Nikmat sesaat lalu syurrrr!!!!!