Al Fatihah bukan untuk dibaca (saja)

Bagi seorang muslim/mah surat Al Fatihah tidaklah asing. Sebab setiap sembahyang akan selalu dibacanya. Entah paham atau tidak terjemahannya. Bahkan terkadang yang  hafal pun,  belum tentu mengerti apa yang dimaksud. Pada umumnya Al Fatihah hanya kita baca dan hafalkan saja lafaznya. Al Fatihah hanyalah bacaan sambil lalu.  Padahal surat ini adalah doa, yakni sebuah permohonan agar kita ditunjuki jalan yang benar (lurus). Kita bermohon – dengan jalan yang benar  itu – kita akan menuju kepada Tuhan. Mestinya permohonan ini harus sudah dikabulkan ( ketemu jawabannya) jauh  sebelum mati. Lalu bagaimana nasib  kita yang akan pulang kepada sang khaliq itu kalau belum menemukan jalan yang lurus itu?

Analisanya :

                                                           اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Terjemahan ayat 6 dan 7 :

Tunjukilah kami jalan yang lurus,  (yaitu)  jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Nah, yang kita mohonkan adalah bahwa  Tuhan menunjuki kita akan jalan yang lurus. Permohonan ini selalu dan selalu setiap saat kita ajukan. Paradoksnya saat itu pulalah kita abaikan. Padahal ini adalah urgen/mendasar untuk manusia yang mengharap kembali kepada Tuhannya. Apa jawabanNya?

Surat An Nisa, 69:

                                  وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

                                                مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ

                                                                       وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

” Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Inilah jalan yang lurus itu. Kalau diurai, jalan yang lurus itu akan didapatkan bila mengikuti saja  jalan orang  yang telah diberi nikmat oleh Allah. Siapa sajakah itu?

1. Nabi – nabi. Dari sudut waktu , yang terdekat adalah nabi Muhammad. Namun, ini adalah nisbi. Sekarang kita berada pada kurun waktu 15 abad sepeninggal beliau. Seribu lima ratus tahun tentu sangatlah jauh untuk sebuah hubungan fisik. Bahkan rupanyapun kita tak pernah tahu.

2. Shiddiqiin, orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul. Ini pun yang paling kesohor hidup dijaman nabi, yakni Abu Bakar siddiiq. Masih amat jauh juga.

3. Orang – orang yang mati syahid. Siapakah ini? Mungkin masih rancu. Kalaulah yang dimaksud syahid dalam perang ( pertempuran medan laga) , siapakah ia? Kalau yang dimaksud syahid melawan nafsunya sendiri ( karena inilah perang yang sangat dasyat) maka siapakah ia?

4. Orang -orang saleh. Nah, inilah orang yang terdekat dengan diri kita. Ulama warisatul ambiya. Pewaris ilmu nabi ,lahir maupun batin.  Beliau berada di sekitar kita. Bersama kita dalam berjamaah. Yang membawa kita kehadapan Allah . Temukan dia karena  beliaulah teman yang sebaik-baiknya. Pertemanan abadi setiap saat tanpa batas, ruang,  waktu , lahir dan batin, tentunya.amin!

Ingat nyayian pujian TOMBO ATI : Wong kang soleh kumpulono!

Kumpul lahir dimensinya terbatas. Kumpul batinnya maka tiada batas!

Tags:

2 Comments to “Al Fatihah bukan untuk dibaca (saja)”

  1. amiiiinnnn.. orang yg soleh yg ada diantara kalian, semoga bathinnya mendapatkan shirotol mustaqiem (jalan yang lurus), tidak belok sana sini ahirnya habis waktu tak sampai kepada sang pemilik : ar rahman, ar rohim, al maliq, kudus, salam, al hakim, al hannan ya mannan,al khaliq,al ajizu, muhaimin al mutakabir… Nabi yg Haq, shiddiqin yg haq, syahidin yg haq, solihin yg haq.. jika kita mendapat satu sumber sang pemilik sifat2 di atas,(yg maha qutub/suber dari segala sesuatu) secara otomatis semuanya akan ikut, semoga mendapat jalan yg lurus sehingga DIA semakin terang tiada hijab, sehingga menjadi petunjuk bagi hamba2NYA, bukan jalan yang sesat sehingga dpt menghapus jalan yg lurus dan haq yg patut dipuji dan disembah. sebagai ahlusunah wal jam’ah seyogyanya kita selalu shalat/tawajuh/berhatamtawajuh,(spt khadab keluar suluk) selalu berjamaah kapanpun dimanapun (meskipun secara jasmani sendirian) Amiiiiin ya robbal alamiiiinnnn… selamat menunaikan ibadah puasa minal aidzin wal fa idzid, mohon maap lahir dan bathin,, fidunia wal akhirah..🙂 salam damai, selamat kembali kepangkalan….!

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: