Archive for February, 2015

15 February 2015

Antara IS dan AS

Standar ganda negara Amerika sudah diketahui publik sejak dulu. Namun ada yang diam karena takut meski meradang. Ada yang tidak perduli sebab masa bodoh. Ada yang berani melawan meski embargo sanksinya. Lembaga sekelas Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)  atau United Nation (UN) pun dibuat tak berkutik olehnya apalagi pemimpin-pemimpin negara kecil. Hemm, liciknya tuh di sini! (ingat lagunya Cita-Citata).

Namun demikian, tercatat dalam sejarah ¬†ada dua pemimpin negara yang berani melawan ¬†arogansi dan congkaknya Amerika. Pertama, Presiden Soekarno. Presiden kebanggaan Indonesia ini pernah mempermainkan dan mempermalukan kelakuan Amerika yang sok jago itu. Kisahnya bahwa setelah pesawat B-26 yang dipilotinya jatuh dihajar mustang AU dan kapal pemburu AL, komentar Pope: ‚ÄúBiasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang‚ÄĚ. Setelah itu dia masih sempat minta rokok. Kedua, Presiden Iran Ahmadinejad yang berani terang-terangan melawan yang berjuluk negeri paman sam itu. Ahmadinejad dengan lantang mengkritik Amrik dalam Konferensi Nuklir PBB (NPT) di New York dengan kalimat,“Dengan sangat menyesal, pemerintah Amerika Serikat bukan hanya pernah menggunakan senjata nuklir, melainkan juga terus mengancam akan menggunakan senjata nuklir kepada negara lainnya, termasuk kepada Iran,” kata Ahmadinejad. Diketahui, Amerika merupakan satu-satunya negara di dunia yang pernah menggunakan bom atom, yakni di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. (http://whibiwaskita.blogspot.com/)

Sekarang di tahun 2015, pasca penembakan masyarakat muslim Amerika di tempat parkiran Chape Hill, Nort Carolinna muncul pemimpin yang lantang bersuara. Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki mempertanyakan kebungkaman Obama.” Jika kalian tetap diam ketika menghadapi insiden seperti ini dan tidak membuat pernyataan apa pun, dunia akan mendiamkan kalian. Sebagai politisi, kita bertanggung jawab untuk segala hal yang terjadi di negara kita dan harus menunjukkan posisi kita”. Lalu lanjut Erdogan,” Saya mengajukan pertanyaan ini untuk Obama: Di mana Anda Bapak Presiden? (Sumber, International; Jawa Post, 14 Februari 2015).

Sebagai masyarakat awam, saya pun merasakan bahwa kalimat bercetak tebal di atas adalah tamparan keras di depan publik ¬†kepada Obama, seorang pemimpin negara besar ¬†yang mengaku negara demokrasi, sebuah negara yang berkelas elit bukan negara berkelas rendahan. Namun, justru sebaliknya. Ayam mengajari bebek berenang! ¬†Tak pelak perilaku pemimpin negara adi daya ini membuat tweeter dunia lebih dari 1,8 juta tagar #ChapelHillShooting digunakan termasuk di Amerika, Inggris, Mesir dan negara-negara Timur Tengah. Bahkan seorang jurnalis Inggris,¬†Pierce Morgan, ¬†mengatakan dalam akun Twitternya bahwa “bila seorang Muslim yang membunuh tiga mahasiswa Kristen, maka akan lebih BANYAK mendapatkan perhatian media dibandingkan apa yang saya lihat saat ini”. (http://www.bbc.co.uk/)

Betapa nampak standar ganda mereka. Maka silakan membuktikan sendiri betapa tidak adilnya itu sehingga pembantaian terhadap banyak orang-orang muslim pelakunya hanya disebut KRIMINALIS. Sebaliknya jika terjadi, langsung stempel TERORIS BERTUBI-TUBI MENGHUNJAM. Memang ada misteri akhiran IS pada kata terorIS itu.Ataukah IS berganti akhiran AS nanti? Wait and see!

Tags: , ,
14 February 2015

Biar Valentino Valentinan!

unduhanhatiAda pernyataan bahwa benar itu belum tentu baik. Sebaliknya baik belum tentu benar. Misal, seorang anak balita yang sedang suka-sukanya memegang sesuatu, maka biarkanlah dia beraktivitas. Dia benar sesuai kodratnya untuk menggunakan otot-otot jemarinya. Namun bila dia meremas-remas pisau dapur, tentulah ibu atau bapaknya atau yang melihatnya akan bereaksi protektif. Sebaliknya bila si ibu yang sedang masak sebagai bukti dan bakti kebaikan kepada keluarga, namun mengayun-ayunkan pisau sambil menimang-nimang balitanya tentulah tidak benar. Orang yang melihatnya juga miris meski ibu itu sedang berbuat baik untuk keluarga.

Demikianlah tentang valentine day yang menjadi pro kontra setiap Februari 14. Jiwanya bahwa valentine day itu upaya mewujudkan ekspresi kasih sayang kepada semua makhluk adalah kebaikan. Baik jika kita selalu menyangi ibu yang melahirkan kita. Sayang kepada bapak yang mensponsori kehadiran kita ke dunia. Sayang kepada kakak, adik yang satu pabrik dengan kita. Juga sayang kepada binatang, tumbuhan serta lingkungan sebagai sesama ciptaan tuhan. It’s ok and you are is good people, Browww!

Valentine day, terlepas dari siapa dan latar belakang sosial atau agama apapun sebagai pencetusnya bernilai kebaikan. Namun kemudian terjadi salah kaprah bahkan cenderung pembelokan dari nilai-nilai kasih sayang itu. Bila diekspresikan dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya ketimuran yang kita anut. Bila justru menimbulkan hal yang kontra normatif. Melawan arus sosial budaya atau agama. Maka kita bertanya, adakah adat dan budaya di Nusantara ini yang membolehkan pergaulan intim laki dan perempuan secara bebas bagaikan ayam? Adakah agama yang membolehkan penganutnya berperilaku sex bebas sebagaimana layaknya dunia binatang?

Inilah sebenarnya yang dikhawatirkan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai moral adat, budaya serta agama. Bukan aroma kasih sayangnya itu sendiri tetapi penyimpangan dari kesalahkaprahan itu. Seluruh tokoh masyarakat serta agama apapun tentu sepaham bahwa cinta dan kasih sayang itu adalah anugerah terindah yang diberikan tuhan. Namun demikian perwujudanya tidak boleh melanggar norma-norma moral sosial itu sendiri.

Maka benarlah reaksi Bapak Wayan Gatra, Kadisperindag Denpasar dalam menanggapi paket coklat+kondom yang dijual di mini market dan mall. Dia menyatakan, ” Secara prinsip ini sudah berkaitan dengan moral, karena secara langsung jika memang ada paket tersebut akan mengajak anak muda untuk berbuat yang tidak baik!” (radar Bali).

Demikian juga reaksi MUI, Majelis Ulama Indonesia yang langsung tancap gas melindungi umatnya dengan memfatwakan haram. Ibarat bapak yang sangat sigap untuk memproteksi anak balitanya yang sedang memegang granat. Granat lho, bukan mercon apalagi pisau dapur!

Tinggal kita tunggu kepedulian tokoh-tokoh agama lain dalam bahu-membahu menyelamatkan masyarakat Nusantara dari cengkraman nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai adat dan budaya ketimuran. 

Maka biarkanlah, si Valentino dan si  valentina valentinan sedangkan si Joko dan mbak Sri di pelaminan.