Islam Turunan

Postingan ini tergelitik oleh pertanyaan teman FB , “sodara “ijin kan saya bertanya # jika kamu terlahir bukan dr keluarga muslim dan lingkungan yg bukan muslim,, bagaimana anda menilai Islam dan apakah Islam itu agama yg paling benar slain agama yg anda yakini…”

8tvbestintheworld.com.myKomentar dari pembaca beragam, kebanyakan berbelit-belit . Sedangkan jawaban saya ,” Maaf urun jawab : …maka agama warisan itulah yang dianggap benar, artinya jika saya lahir dengan ortu non islam apalagi besar di lingkungan non islam tentu saya meyakini kebenaran agama ortu saya itu titik. Inilah yang saya maksud agama warisan! Lebih jauh nanti saya akan urun rembug, sekarang waktunya pendek ..saya mau kerja…maaf ya menggantung! “.

Nah, tulisan ini urun rembugnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kita beragama ini adalah buah warisan atau turunan dari ibu bapak kita pada awalnya. Misal , saya yang beragama Islam. Saya tahu dan mendapatkan agama ini dari orang tua dan lingkungan sekitar bukan dari nabi Muhammad secara langsung sebab mereka beragama Islam. Hal ini senada dengan hadist , “Tidaklah seorang anak lahir melainkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tualah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi. (HR. Muslim).

Ada empat katagori pada ungkapan rasul di atas, yakni : 1) Fitrah ; 2) Yahudi; 3) Nasrani; dan 4) Majusi. Kata fitrah ,secara etimologi  berasal dari kosa kata bahasa Arab yakni fa-tha-ra yang berarti “kejadian”, oleh karena kata fitrah itu berasal dari kata kerja yang berarti menjadikan.sepadan dengan kata khalaqa dan anyaa yang artinya mencipta. Biasanya kata fathara, khalaqa dan ansy’a digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengertian mencipta, menjadikan sesuatu yang sebelumnya belum ada dan masih merupakan pola dasar yang perlu penyempurnaan. Pengertian sederhana secara terminologi menurut pandangan Arifin; fitrah mengandung potensi pada kemampuan berpikir manusia di mana rasio atau intelegensia (kecerdasan) menjadi pusat perkembangannya,[12]dalam memahami agama Allah secara damai di dunia ini. Lebih jauh  Arifin menyatakan yakni secara keseluruhan dalam pandangan Islam mengatakan bahwa kemampuan dasar/pembawaan itu disebut dengan fitrah Ada yang mengemukakan bahwa fitrah merupakan kenyakinan tentang ke-Esaan Allah swt, yang telah ditanamkan Allah dalam diri setiap insan. Maka manusia sejak lahirnya telah memiliki agama bawaan secara alamiah, yaitu agama tauhid. Istilah fitrah dapat dipandang dalam dua sisi. Dari sisi bahasa, maka makna fitrah adalah suatu kecenderungan bawaan alamiah manusia. Dan dari sisi agama kata fitrah bermakna keyakinan agama, yakni bahwa manusia sejak lahirnya telah memiliki fitrah beragama tauhid, yaitu mengesakan Tuhan. (http://makalahmajannaii.blogspot.com).

Saya setuju dengan pendapat Arifin tersebut yakni bawaan agama Tauhid. Yakni mengesakan Tuhan. Nabi Adam (ke- 1) mengesakan Tuhan. Nabi Idris, Nuh, dan seterusnya sampai Nabi Isa A.S mengesakan Tuhan. Belum populer disebut dengan Islam (secara struktural). Sehingga di zaman nabi Isa pun ( nabi urut ke- 24 )tidak disebut beragama Islam. Baru pada zaman Nabi Muhammad SAW (urut ke-25) maka rukun Iman dan rukun Islam dipopulerkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim menjadi tonggak  HANIFAN MUSLIMAN . Kata musliman di sini masih ditafsirkan lurus lagi berserah diri, (Islam maknawi  ) bukan diartikan agama Islam secara struktural. Sebab secara Struktural Islam mengajarkan kewajiban    Rukun Iman yang syaratnya  ada 6 dan  rukun Islam ada 5, yang pertama bersyahadat Ashaduallah i lahaillallah wa ashadu anna MUHAMMADAR RASULULLAH, dst. Ini maknanya bahwa Nabi Adam dan umatnya cukup hanya mengesakan Tuhan dengan tauhid yang diajarkan beliau sudah pasti disayangi Tuhan. Demikian pula Nabi Idris, Nuh dan seterusnya  bertauhid saja ala yang diajarkan Nabinya tentu sudah bisa disebut taat beragama Tuhan sampai kepada nabi Ibrahim cukuplah menjadi orang yang lurus dan berserah diri saja kepada Tuhan.

Lain persoalan setelah  Muhammad bin Abdullah. Konsep maknawi  Islam yakni lurus dan berserah diri (tauhid)  sempurna berbanding lurus dengan konsep Islam secara struktural yakni  bertahap diajarkannya wahyu Tuhan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad bin Abdullah  sampai pada haji wada’ dan sejak itu Islam telah sempurna menjadi agama batin( maknawi) dan lahir (struktural). Dengan demikian perkembangan kesempurnaan agama islam itu dimulai dari nabi Adam sampai kepada nabi Muhammad SAW.

Ibarat aliran air sungai (maaf ini hanya ibarat)  : air mengalir dari gunung lalu mengalir mengikuti cekuan parit sampai di desa Adam . Di desa ini ada penampungan yang disebut penampungan Adam. Penampungan ini struktur bangunannya belumlah bagus dan canggih masih apa adanya -sesuai kemampuan saat itu. Tetapi airnya masih air sungai itu juga. Dari penampungan ini diteruskan mengalir pada penampungan B, penampungan C dan seterusnya sampailah pada tujuan terakhir yakni penampungan di desa M. Penampungan di desa M  inilah sudah bagus, kuat dan canggih sesuai dengan tujuan dan rancangan Insyinyur ahlinya yakni membangun bendungan yang lebih dari sekadar penampungan yang disebut dengan DAM. Karena besarnya maka DAM ini diharapkan bisa mengairi sawah serta menjadi pusat air minum sedunia. Maka selesailah proyek Master Insyiyurnya!

Lalu sekarang kita ini bagaimana?  Kemanakah kita akan mencari air untuk kita manfaatkan? Tentu jawabnya terserah pada individu masing-masing. Kalau saya memilih yang bisa diakses dengan tepat dan akurat. Pilihan ini pada awalnya tentu diperkenalkan oleh orang tua saya . Pilihan ini mau tidak mau awalnya harus diterima tanpa reserve ( tanpa cadangan /pikir panjang) karena tidak ingin disebut anak durhaka kepada bapak ibu. Tetapi setelah dewasa , saya punya pikiran dan hati nurani yang bisa memilah dan memilih dengan tepat dan akurat. Saya memilih meneruskan pilihan orang tua yakni agama  Islam tetapi dengan  catatan. Lho, apa catatannya?

Saya tidak ingin sekadar meneruskan agama turunan. Saya harus memperbaharui MOU dengan pihak DAM pusat atau LISENSINYA sebab MOU dengan orang tua saya hanyalah untuk rumah atau sawah  orang tua. Sedang untuk mengalirkan  air  DAM itu ke dalam rumah saya haruslah menandatangani lagi perjanjian kedua belah pihak. Perjanjian pertama saya harus bersaksi bahwa memang benar Allah adalah Tuhan saya, dan saya harus menyaksikan juga bahwa Muhammad itu rasul Allah. Saya tidak ingin disebut penyaksi palsu. Ibarat di meja pengadilan, bagaimana saya bisa disebut menyaksikan padahal saya tidak pernah menyaksikan (melihat, mendengar, meraba dst). Tentu hal ini disebut saksi palsu. Saksi palsu tentu ancamannya lebih parah . Terima kasih! Semoga bisa dicerna!

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: