Posts tagged ‘alay lebay’

25 December 2014

Babi Lewat, Gatal Baru

???????????????????????????????Ketika saya duduk manis di kursi bundar yang terbuat dari anyaman eceng gondok di sudut teras rumah, lewatlah seekor babi yang dituntun oleh pemiliknya, ibu-ibu setengah baya. Sebut saja Men Wayan. Saya pandangi ibu itu yang membawa babi sampai pas di pintu pagar rumah. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan muncul sepeda motor dengan penumpang seorang ibu-ibu juga, paruh baya yang berkerudung atau berjilbab. Panggil saja ibu Muslimah. Orang itu saya kenal dan tahu rumahnya. Dia itu tetangga  yang pandai mengaji dari etnis  madura. Saya dengar dengan jelas dialog singkat mereka dengan menggunakan bahasa Indonesia ketika berpapasan.

Muslimah: Dari mana, Buk? Mampir ke rumah, Buk!

Men Wayan: Dari ngawinkan Bangkung, Buk.Makasih!

Lepas dari pandangan kedua mata, saya mulai berpikir dan merenung. Ibu Muslimah itu apakah memang kenal akrab dengan Men Wayan atau tidak ya? Andai kenal benar dan Men Wayan mau menerima ajakan untuk mampir, pasti dituntunlah babi besarnya itu, yang di Bali disebut bangkung untuk masuk juga ke halaman rumah Bu Muslimah. Lalu saya bayangkan Men Wayan ngobrol ngalor ngidul di ruang tamu bu Muslimah sementara babinya parkir di halaman rumah. Barangkali akan menjadi situasi yang tak lazim. Bahkan cenderung situasi risi bagi keduanya.

Namun, bila tidak kenal baik, maka bu Muslimah itu hanya basa-basi atau lips servis, pemanis bibir sesama ibu-ibu yang bertetangga sebelahan. Men Wayan dari komunitas Bali yang beragama Hindu, sementara bu Muslimah dari komunitas yang beragama Islam. Di kampung saya, memang berhimpitan antar dua komunitas itu, hanya disekat oleh jalan.

Terlepas benar atau sekedar lips servis, It is never mind! It’s OK! Jujur, saya menilai bahwa perilaku seperti itu perlu dibudayakan di tengah heteregonitas bangsa Indonesia. Saling senyum, saling pandang dan saling sapa, to say hello meski hanya sekedar pemanis bibir. Yang penting bahwa niat kita care terhadap orang lain dan punya jiwa persaudaraan. Sikap menyama braya dalam istilah Bali. Apalagi sekarang di bulan Desember ini yang bersamaan dengan perayaan gatal baru. Hari raya galungan, natal dan tahun baru. Apa salahnya kalau hanya mengucapkan, “selamat hari raya Galungan bagi umat Hindu, dan selamat hari natal untuk Kristiani serta selamat hari libur di tahun baru bagi semua”. Tentu tidak perlu berlebihan follow up dari  ucapan selamat itu.

Toh, saya percaya bahwa Men Wayan tidak akan mau mampir begitu saja pada situasi seperti itu. Sedangkan Ibu Muslimah tentu juga tidak akan minta daging babi itu bila Men Wayan memotongnya. Saling tahu, saling mengerti itulah kebijaksanaan. Inilah dasar kearifan lokal itu. Local Wisdom! Indonesia bingittts!

Advertisements
Tags:
10 November 2012

Aqu – Lou dan Gue, Gitu Lhoh….

Behaviorisme menyatakan bahwa ada Stimulus – Respon dalam perilaku pembelajaran. Tokoh teori ini yakni Gage dan Berliner. Pembiasaan reaksi dari diri anak-anak setelah dipancing(penguatan) oleh eksternalnya. Terjadi perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalamannya.  Contoh sederhana , bila setiap hari pada waktu yang sama kita membuka dapur lalu menebarkan biji-bijian maka ayam-ayam selalu meresponnya. Esok hari pada waktu yang sama demikian juga. Hari-hari berikutnya , kemunculan kita akan ditunggunya. Padahal sebelum diberikan penguatan itu, ayam liar dan tidak pernah menunggu di depan pintu dapur. Mario Teguh pernah menyimpulkan bahwa perubahan perilaku anak manusia ( uji coba pada bayinya sendiri) memerlukan waktu 5 hari .

Psikologi semacam ini sudah terjadi pada peserta didik. Kalimat, ” ...aqu, lho, gue , gitu lhoh! “, adalah hal yang lumrah didengar pada pergaulan siswa-siswi sekarang. Sedangkan diksi saya, kamu ,dan begitu tidak mudah lagi terdengar.  Indikatornya, berapa kali siswa keceplosan mengucapkan aku saat berbicara dengan guru? ( situasi lokal sekolah kami). Puncaknya, ketika para siswa mendapat tugas Mapel Bahasa Indonesia dengan KD Pemeranan Drama, mereka lebih enjoy mengatakan lou – gue ( tapi bisa ditoleransi mengingat drama adalah ekspresi bahasa percakapan). Namun, di balik itu kefasihan dan kenyamanan melafalkannnya menandakan keterbiasaan penyebutan diksi itu.

Referensi – korelasi :

 Bagaimana tidak mengubah penampilan bahasa anak ( di desa ) kalau yang diaksesnya adalah tontonan ibu kota ? Sinetron ala gaul pada setiap chanel televisi selalu menstimulus setiap harinya. Bahkan tidak hanya sinetronnya, acara yang lainpun berbau miring dalam penggunaan bahasa Indonesia. Maka muncul istilah gaul yang disukai anak- anak muda (termasuk siswa-siswi kita, khan?) yakni bahasa alay dan lebay.

Akses lainnya sms, chat, kamfrog, yahoo mesengger, skpe, twitter, face book dan produk – produk lain teknologi kekinian mudah diakses dan fleksibel tinggi. Lentur dengan bahasa gaul yang mudah diplintar-plintir. Sah-sah saja memang, apalagi bahasa adalah konvensi – kesepakatan publik. Sepanjang disepakati dan dimengerti olah masyarakat – so what gitu lhoh ?Oleh karena itu , kita bersiap menuju era tampilan bahasa digital daripada penggunaan bahasa verbal. Alias : Berkomunikasi dengan orang lain tanpa pakai mulut. Hemmm, bagaimana jadinya, ya?

Tags: