BIARKANLAH, GURU MENGAJAR DAN MENDIDIK !

Oleh : Muh. Sutrisno

Instansi : SMP Negeri 2 Gerokgak

            Ungkapan  “guru kencing berdiri, murid kencing berlari“  dapat dipertegas dengan keterangan berikut. Guru adalah panduan bagaimana murid bersikap. Kelakuan  murid selalu mencontoh guru. Bahwa apapun yang dilakukan oleh guru akan menjadi tauladan murid. Guru adalah sosok yang disentralkan. Ketika mengerjakan PR , murid lebih meyakini perkataan guru daripada orang tua.” Katanya guru tidak begitu ,Bu! Ibunya sendiri diprotesnya.  Hal ini bisa dimaklumi sebab kata guru, dengan akronim digugu dan ditiru  (yang sudah lazim kita dengarkan ) terurai dari kata gugu,menggugu (Jw) yang artinya mempercayai, menuruti ; mengindahkan. Sedangkan tiru  bermakna mencontoh atau meneladani.

Keadaan itu seolah menyatakan bahwa  guru dan maknanya yang demikian itu telah kuat mengakar, memasyarakat. Suatu ekpresi-kehidupan masyarakat tinggalan feodal, kolonial bahkan masih eksis sampai era global sekarang ini. Seakan-akan tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.

Seperti kata Pauleo Freire dalam Nasution , ” Banking  Concept, cara guru yang memandang bahwa mengajar itu seperti orang yang memasukkan uang ke bank. Uang dimasukkan ke bank dan akan mendapat bunga. Guru mengajar dan murid belajar, guru menerangkan dan murid mendengarkan, guru bertanya dan murid menjawab.” Semakin jelas bahwa guru menjadi mesin  ATM ( Anjungan Tunai mandiri ) dalam kelas.

Ini adalah konsep yang salah.

Guru memang  tidak seharusnya menjadi satu-satunya  agen model  yang harus dituruti dan ditiru atau diteladani. Hanya maksimal kurang lebih 6 jam bersama guru, tidaklah sebanding dengan 18 jam bersama orang tua serta lingkungan rumah dalam keseharian.  Bukan pula satu-satunya pemecah persoalan seperti mesin ATM yang menyediakan berapapun uang yang dibutuhkan pemilik kartu . Masih banyak sumber belajar lain yang bisa menjadi referensi, menjawab persoalan . Apalagi di era global dan digital ini. Sehingga ada benarnya perkataan Tukul dalam iklannya di televisi , “ Ngak bisa internetan … ndeso!”

Guru adalah makhluk hidup. Seharusnyalah menjadi salah satu agen penghantar kepada perubahan.  Sebab pendidikan merupakan pendekatan dasar dalam proses perubahan itu. Sedangkan Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Universal , menyeluruh dan berkelanjutan. Oleh karena itu kegiatan belajar haruslah dapat menjadi sebuah pemecahan masalah secara reflektif dengan kerjasama secara demokratis antar guru dan murid.  Maka disinilah karakter guru  menjadi Pengajar, mengajar  dan murid sebagai  warga belajar.  Guru berkarakter sebagai pendidik, mendidik dan murid sebagai peserta didik.

Guru sebagai pengajar adalah guru yang bisa memberikan petunjuk supaya diketahui atau bahkan dituruti warga belajar. Belajar dalam rangka memperoleh kepandaian atau ilmu, dalam aspek intelektualnya. Sehingga warga belajar bisa berubah tingkah lakunya sebab pengalaman belajar itu.  Akhirnya apa yang disebut PBM ,  Proses Belajar Mengajar hendaknya ditekankan pada  Proses Pembelajaran yakni proses, cara, perbuatan menjadi makhluk hidup belajar.  Maka tidak akan terjadi ,” Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi!” Ilmu yang dituntut menjadi sempurna dan berfaedah bagi kehidupan warga belajar sekarang atau nanti.

Akan halnya guru sebagai Pendidik,  mendidik yakni karakter  memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan ) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dalam hal ini tampak aspek emosional moral yang harus digarisbawahi. Bahwa ada proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Inilah pendidikan berkarakter.

Sejatinya Pendidikan Berkarakter haruslah dimulai dari guru itu sendiri  yang memiliki karakter. Pendidikan Berkarakter sangatlah simple dan tidak rumit. Bahkan  tanpa perlu banyak diwacanakan.  Seorang guru dalam karakternya sebagai pengajar dan pendidik  haruslah menjelma menjadi suatu Gestalt, keutuhan unik yang memiliki kepribadian yang simpatik. Dalam aplikasinya , seorang guru simpatik ini – begitu  menikmati  cintanya pada dunia pendidikan – tanpa pretensi apa-apa. Tulus dan senang dalam mengajar dan mendidik. Bahkan tunjangan sertifikasi sekalipun, bukanlah satu-satunya minat yang utama. (Sejalan dengan  penelitian, bahwa guru yang telah lolos sertifikasi ternyata tidak menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan – Kompas, 13 November 2009).  Pendidikan Berkarakter haruslah dibalut dengan kejujuran dan senyuman ikhlas Sang guru. Bukan dibalut oleh budaya ABS, Asal Bapak Senang.  Sehingga out come  pendidikan begitu objektif, apa adanya tanpa rekayasa. Kelak lahirlah generasi jujur, apa adanya, bukan generasi palsu-  generasi abal-abal.

Tumpang tindihnya pemakaian istilah guru, pengajar ataukah pendidik seolah berjalan seiring dengan tumbuhnya  penerapan kurikulum dalam dunia pendidikan.  Dari Leer Plan pada tahun 1947 , atau yang lebih populer Kurikulum 1950, kurikulum 1975, kurikulum 1984 sampai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang mulai diujicobakan pada tahun 2004. Lalu  sebentar – sebentar berubah – ubah. Seperti anak muda yang terus mencari jati diri.  KBK belum tuntas dipahami, muncul Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006.  Ini pun belum final dipelajari – dan sekarang –  tahun 2011  telah dikembangkan Kurikulum Berbasis Akhlak Mulia. Sebuah kurikulum berbasis karakter, yang lahir dalam tambal sulam .Sebab pendidikan yang telah lewat masih menghasilkan generasi tawuran, anarkis, tidak nasionalis, teroris dan subversif .

Alhasil, kata guru tetaplah eksis dan populis dibandingkan pengajar dan pendidik. Maka “ Undang-undang Republik Indonesia No 14 tahun 2005  tentang Guru dan dosen bukanlah tentang Pendidik/ Pengajar dan Dosen ”. Maka seorang Guru Besar tidaklah lazim disebut Pendidik Besar atau Pengajar Besar.  Masyarakat pun lebih  nyaman dengan panggilan Pak guru daripada Pak pendidik.

Guru adalah  orangnya. Mengajar dan mendidik adalah karakternya. Maka biarkanlah guru mengajar dan mendidik!

Tags:

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: