Meretas Tradisi Akhir Tahun

Sudah menjadi tradisi bahwa akhir Desember memasuki 1 Januari dirayakan sebagai tahun baru masehi. Dimana-mana tempat bahkan sampai  udik pun macam pelosok pegunungan – Gunung naknong betoh kletak – tak luput dari pesta tahun baru. Seolah menjemput kebahagian maka tiupan terompet ditingkahi sorak sorai serta gemuruh dentuman kembang api ramai terdengar mengagetkan langit malam. Ada yang lebih ektrem bahwa tahun baru identik dengan pesta miras dan free sex.” Merayakan datangnya tahun baru”, seloroh mereka.

Bagaimana ini?

Secara manusiawi, sebenarnya kebahagiaan itu sah-sah saja. Bahagia memang milik bersama. Memasuki tahun baru lalu kita masih bernafas adalah kebahagian luar biasa. Patut disyukuri memang. Berarti masih ada kesempatan pada hari mendatang untuk menjalani kehidupan ini. Yang tidak wajar adalah kebahagian yang kita rayakan itu terlalu berlebihan. Sehingga lupa diri , apalagi ingat kepada orang lain. Padahal hidup bersama berbagi tempat di bumi ini harusnya ada sikap tenggang rasa dengan makluk lain bahkan binatang sekalipun. Bumi yang kita huni ini bukan monopoli milik kita. Oleh karena itu nyadar dong bahwa ada kuping tetangga yang nantinya juga dengar bila kita putar musik keras-keras. Mungkin tetangga itu sudah sakit dan menjelang ajal. Dengar mercon dan musik, cepatlah koid dia.

Satu yang mendasar bahwa tambah tahun sebenarnya tidaklah bertambah umur . Sebaliknya tambah berkurang. Logikanya : umur sudah tentu. Takdir Tuhan, misal 60 tahun dijatahkan buat kita. Tahun 2015 adalah titik akhir. Itu artinya memasuki tahun 2012 saldo umur kita 3 tahun lagi. Masuk tahun baru 2013 saldonya 2 tahun dong. Waduh gawat. Masuk tahun  baru 2014 sisa 1 tahun. And memasuki tahun 2015 genaplah sudah. Kita is dead….koid….mati…..bangka…..dicabut nyawa kita pake tang….he…he…

Hanya berumah petak 1×2 meter. Hanya bertungku badeg diatas perapian kompor mayat. Berteman mayat-mayat lain di atas tanah pekuburan( itu pun belum tentu bisa ngobrol ala siskamling dengan penghuni terdahulu). Tinggal satu brosur yang disodorkan oleh panitia akhirat :

“Mas/ Mbak  mau hotel surga bintang berapa?” Atau ” Gini aja dah mas/mbak , langsung aja ya belok kiri nanti ada remang-remang membara. Nah, disitu dah mas tinggal bersama artis-artis dugem di dasar neraka”.

Alamak! Mati aku ! ( emang…dah mati mas!)

Tags:

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: