Archive for December, 2014

27 December 2014

Burungku Freestyle

images (2)Saat matahari mulai menyapa teras rumah, menikmati merdunya siulan burung ¬†sambil nyeruput kopi aduhai nikmatnya. Burung datang pergi bertengger bebas di dahan pohon mangga ¬†depan rumah.¬†Aroma mangga manalagi yang legit dan manis mulai tampak ¬†setelah tadi malam kelelawar tidak sanggup menghabiskan. Dengan warna mempesona, gelantungan buah mangga yang terkelupas separohnya menarik ingin burung kutilang menikmatinya.¬†Burung bersiul-siul merdu sambil berloncatan girang mematuk mangga. Suit…suit..suit ….siulan riuh melengking sesekali bersuara rendah merajuk pasangannya. Semakin lama semakin banyak yang datang siulan bertalu-talu, bersahut-sahutan. Waow…..freesttyle…..kutilangku, crukcukku!

Nyatanya bisa menikmati merdu kicauan burung meski tidak harus mengurung. Mengurung burung hanya bertujuan kesenangan adalah bagian dari penyakit psikologis. Beberapa alasan logisnya:

  • Melanggar Hak Asasi. Burung adalah makhluk hidup. Jadi kedudukannya sejajar dengan makhluk hidup yang lain, termasuk dengan manusia. Berhak hidup dimana saja di belahan bumi mana pun asal saratnya terpenuhi. Tidak ada batasan RAS ( ras, agama dan suku). Tidak ada sket wilayah. Misal, karena ini wilayah kabupaten Buleleng, maka burung Gilimanuk tidak boleh melintas apalagi tinggal! Ini ¬†seirama dengan implementasi UUD 1945 negara RI ¬†pasal 26, bro! Ini adalah primordial.
  • images (1)Pemasungan Ekspresi. Burung juga makhluk hidup yang butuh berekspresi dalam mengisi hari-harinya. Diantaranya meneruskan keturunan. Lalu apa tidak merana jika harus tinggal sendiri dalam kurungan sampai mati. Bayangkan bila terjadi pada burung kita. Mungkin, sesekali di pagi hari burung dalam sarung bisa keluar lepas kendali mencari tuan putri. Namun, burung dalam kurung sulit menerobos jeruji, khan? Ingat lagu, ” Wahai kau burung dalam sangkar. Betapa malang nasibmu…..
  • Memutus Rantai Kehidupan. Kalau serempak manusia punya kesenangan yang sama yakni mengurung burung dalam sangkar, maka wajar ulat bulu bahkan belalang meraja lela. Besok, tersiar berita” Ulat Bulu Serang Perkampungan” atau ” Belalang Duduki Persawahan”. Bukankah alam ini bersujud kepada penciptanya dengan putaran 360′? Bumi berotasi pada sumbunya sebesar 360′. Elektron mengelilingi inti atomnya juga 360′. Siklus terjadinya hujan juga 360′, bahkan gerakan sholat dalam agama Islam juga menunjukkan 360′. Demikianlah rantai makanan itu, dari ulat – burung – kucing – ulat – burung! Tiga ratus enam puluh derajad , khan?

Teringat ketika Nabi Sulaiman melintas, tiba-tiba menghentikan pasukannya. Katanya, ” Hai pasukanku berhenti sejenak. Kita beri kesempatan kepada para semut lewat, sebab aku dengar betapa paniknya mereka menghindari injakkan kuda kita!“. Hemm, demikian bijak dan mengerti sang Nabi.

Namun, kita tidak perlu menjadi Nabi Sulaiman yang mengerti dialog binatang, apalagi menjadi King Suleman yang kotroversi dalam tayangan televisi itu. Cukup kita menjadi, ” Sholeh, Men!”. Yang mengerti nyanyian burung dalam kurungan,” Sakitnya tuh di sini! Sakitnya tuh di sini…………..!

 

Tags: ,
25 December 2014

Babi Lewat, Gatal Baru

???????????????????????????????Ketika saya duduk manis di kursi bundar yang terbuat dari anyaman eceng gondok di sudut teras rumah, lewatlah seekor babi yang dituntun oleh pemiliknya, ibu-ibu setengah baya. Sebut saja Men Wayan. Saya pandangi ibu itu yang membawa babi sampai pas di pintu pagar rumah. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan muncul sepeda motor dengan penumpang seorang ibu-ibu juga, paruh baya yang berkerudung atau berjilbab. Panggil saja ibu Muslimah. Orang itu saya kenal dan tahu rumahnya. Dia itu tetangga  yang pandai mengaji dari etnis  madura. Saya dengar dengan jelas dialog singkat mereka dengan menggunakan bahasa Indonesia ketika berpapasan.

Muslimah: Dari mana, Buk? Mampir ke rumah, Buk!

Men Wayan: Dari ngawinkan Bangkung, Buk.Makasih!

Lepas dari pandangan kedua mata, saya mulai berpikir dan merenung. Ibu Muslimah itu apakah memang kenal akrab dengan Men Wayan atau tidak ya? Andai kenal benar dan Men Wayan mau menerima ajakan untuk mampir, pasti dituntunlah babi besarnya itu, yang di Bali disebut bangkung untuk masuk juga ke halaman rumah Bu Muslimah. Lalu saya bayangkan Men Wayan ngobrol ngalor ngidul di ruang tamu bu Muslimah sementara babinya parkir di halaman rumah. Barangkali akan menjadi situasi yang tak lazim. Bahkan cenderung situasi risi bagi keduanya.

Namun, bila tidak kenal baik, maka bu Muslimah itu hanya basa-basi atau lips servis, pemanis bibir sesama ibu-ibu yang bertetangga sebelahan. Men Wayan dari komunitas Bali yang beragama Hindu, sementara bu Muslimah dari komunitas yang beragama Islam. Di kampung saya, memang berhimpitan antar dua komunitas itu, hanya disekat oleh jalan.

Terlepas benar atau sekedar lips servis, It is never mind! It’s OK!¬†Jujur, saya menilai bahwa perilaku seperti itu perlu dibudayakan di tengah heteregonitas bangsa Indonesia. Saling senyum, saling pandang dan saling sapa, to say hello meski hanya sekedar pemanis bibir. Yang penting bahwa niat kita care terhadap orang lain dan punya jiwa persaudaraan. Sikap menyama braya dalam istilah Bali. Apalagi sekarang di bulan Desember ini yang bersamaan dengan perayaan gatal baru. Hari raya galungan, natal dan tahun baru. Apa salahnya kalau hanya mengucapkan, “selamat hari raya Galungan bagi umat Hindu, dan selamat hari natal untuk Kristiani serta selamat hari libur di tahun baru bagi semua”. Tentu tidak perlu berlebihan follow up dari¬† ucapan selamat itu.

Toh, saya percaya bahwa Men Wayan tidak akan mau mampir begitu saja pada situasi seperti itu. Sedangkan Ibu Muslimah tentu juga tidak akan minta daging babi itu bila Men Wayan memotongnya. Saling tahu, saling mengerti itulah kebijaksanaan. Inilah dasar kearifan lokal itu. Local Wisdom! Indonesia bingittts!

Tags:
24 December 2014

Google Map, Ayat-ayat Tuhan

downloadAplikasi google map yang sering kita manfaatkan ternyata adalah ayat-ayat Tuhan yang tersembunyi. Mengapa, begitu?

Perlu kita pahami bersama bahwa yang dimaksud ayat-ayat Tuhan itu tidak hanya ayat-ayat yang tertera dalam kitab suci. Namun, lebih dari itu bahwa semua unsur di alam semesta ini baik yang tampak maupun tidak adalah ayat-ayat Tuhan. Tanda-tanda adanya Tuhan. Yang sudah ditemukan atau pun yang belum ditemukan oleh manusia juga ayat-ayat Tuhan. Sebut saja, misalnya ikan Mujahir. Apakah sebelum orang yang bernama Pak Mujahir menemukan jenis ikan itu, si ikan itu sendiri tidak ada? Atau sebelum orang menemukan gelombang fisika yang populer disebut frekuensi, si frekuensi itu sendiri tidak ada? Entitas si ikan maupun gelombang frekuensi itu sebenarnya telah ada. Namun, eksistensinya baru ditemukan. Entitas adalah ranah Tuhan. Eksistensi tergatung akal manusia.

Bagaimana google map?

Google Maps adalah sebuah jasa peta globe virtual gratis dan online disediakan oleh Google dapat ditemukan dihttp://maps.google.com. Ia menawarkan peta yang dapat diseret dan gambar satelit untuk seluruh dunia. Dalam alplikasi ini ada istilah zoom in dengan simbol (-) dan zoom out (+), atau cubit dan mekar bila layar sentuh. Zoom out dilakukan untuk penampilan mendekat  pada objek yang dibidik, sedangkan Zoom in  dilakukan jika ingin menampakkan penampilan peta menyempit, menjauh bahkan mensemesta. Maksud mensemesta adalah seolah-olah mata kita melihat bumi itu dari sudut terjauh dari angkasa raya. Disinilah ayat-ayat tuhan itu mulai kita pahami, renungkan dan rasakan. Betapa logis bahwa kita hidup di dunia ini hanya sebatas mimpi saja. Yang sebentar lagi sudah bangun dari tidur.

Cobalah kita mainkan google maps itu dengan zoom in, zoom out berulang kali. Klik dan klik! Maka kita tahu, perbandingan hidup kita saat berkeliaran beraktivitas di hamparan bumi ini. Saat zoom out, tampak begitu luas dunia ini (bumi itu). Jarak antara satu tempat dengan tempat lain di bumi itu  seolah luas seluasnya sampai kita merasakan aktivitas yang luar biasa jarak tempuhnya dan lamanya waktu tempuh. Dari rumah ke kantor, ke pasar, ke kota lain, balik lagi ke tempat tinggal kita terus menerus seolah siklus yang tak pernah berhenti. Berkilo-kilo meter jaraknya, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun kita merajai hidup di jalanan dunia ini. Belum lagi bangunan rumah kita, lahan kebun milik kita. Serasa luas berhektar-hektar tak terjangkau oleh mata memandang. Itu saat kita zoom out sang google maps.

Sekarang cobalah zoom in atau cubit atau klik simbol (-) sampai pandangan kita berada jauh di atas titik rumah kita, sampai sudut pandang mensemesta! Lalu bumi tampak setitik saja.  Dimanakah rumah kita yang luas itu? Dimanakah lahan kebun yang berhektar-hektar itu?  Jangankan rumah atau kebun, bumi saja menjadi tampak setitik saja. Kemudian bertanyalah, mana aktivitas yang berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun yang kita banggakan itu? Aktivitas yang kita alami berjarak-jarak dengan waktu yang berlama-lama, bertahun-tahun  pun seolah tak berarti dan menjadi satu titik saja. Semua menjadi satu titik kecil, bahkan lebih kecil dari semut. Satu titik saja!

Semua tampak kecil, sangat kecil bahkan tak terlihat bekas-bekas hasil karya kita, sangat tak  berarti di mata sudut alam semesta. Mana gunung Everest yang tinggi itu, mana patung Liberty di Amerika itu, mana menara Eifel di Paris itu?

Itu baru dari sudut terjauh sudut semesta dari layanan aplikasi google maps, apalagi dari sudut semesta versi Tuhan. Betapa kecil tampaknya dan tak berati harta kita itu. Betapa pendeknya waktu aktivfitas harian kita itu, meski yang kita rasakan bertahun-tahun lamanya.

Maka benarlah pernyataan Tuhan bahwa hidup manusia itu ibarat mampir di warung beli makan minum lalu pergi untuk melanjutkan perjalanan. Ibarat tidur maka bermimpi lalu bangun lagi. Se-saat…se-saat…se-saat!

Tags: , ,