Posts tagged ‘Islam Turunan’

28 April 2013

Maaf, Uje! Sorry Eyang Subur!

” Maaf  Uje, sorry eyang Subur aku  bukan muridmu!”.  Pernyataan ini seolah sarkasme atau bahkan gurauan. Namun, hal ini serius bagi saya. Saya tidak pernah berguru (resmi)  kepada Ustad Jefry bahkan kepada eyang Subur bagai Adi Bing Slamet yang heboh itu. Jadi saya bukan murid Ustad Jefry , juga bukan murid Eyang Subur.

Belajar haruslah dengan guru. Dalam Ihya Ulumudin, ” Barang siapa tiada bermursyid (guru pembimbing) maka mursyidnya adalah setan”. Pernyataan ini lebih ditujukan kepada belajar hal-hal yang bersifat agama dan metafisik. Sebab dalam belajar agama tidak bisa hanya mengandalkan buku-buku, CD, Komputer, Blog, Web, serta situs-situs keagamaan tanpa bimbingan waliyam Mursyida. Ingat dalam surat Al-Kahfi, ayat 17 dinyatakan , “ Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (http: opi.11Omb.com/). 

(Lebih jauh baca opini saya tentang Peran Salihin dalam https://paktris.wordpress.com/2013/04/28/peran-salihin/.)

Mengapa? Nabi Muhammad saja belajar beragama Islam dari seorang guru. Beliau adalah Jibril A.S. Tanpa Jibril , Muhammad bin Abdullah tidak akan bisa menyebut(membaca) nama Tuhannya. Ingat  tentang turunnya Surat Al- ‘Alaq, ayat 1 , ” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan ” dst! . 

Dalam masa 22 tahun , 2 bulan dan 22 hari barulah wahyu itu selesai diturunkan oleh Jibril A.S. Betapa lamanya, betapa intensnya  seorang Muhammad berguru kepada Jibril untuk berhadapan atau kembali kepada Tuhannya. Lalu, apakah kita begitu saja belajar Islam tanpa guru, tanpa mursyid ? Bisakah kita kembali kepada Tuhan dengan bekal yang asal-asalan. Padahal Muhammad adalah teladan. Ada hal yang harus diikuti (diteladani).”  Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Al-Ahzab :21) .Meskipun kita bukan ingin menjadi Muhammad. 

Maka wajib bagi seorang muslim dalam mempelajari agamanya untuk mengambil seorang guru pembimbing ( Mursyid) dalam hal belajar agama Islam.  Yakin bila telah menemukan pembimbing maka pastikan beliau adalah Al- Ulama Pewaris ilmunya Nabi Muhammad SAW ( al ulama waristatul an biya’). Di Pulau Jawa disebutlah dengan istilah Kyai ( asal bukan Kyai Selamet , kerbaunya kraton; bukan Kyai Pleret , tombaknya Sultan Agung, bukan Kyai Kanjeng , gamelannya Emha Ainun Najib), di Pulau Lombok disebut Tuan Guru, di Sumatra disebut Abu/Buya/ Ayahanda Guru dan di Timur Tengah disebut Syekh.

Jadikanlah beliau guru dan Anda muridnya. Pinanglah beliau dengan memohon agar tidak terjadi ” Cinta bertepuk sebelah tangan- alias tidak diterima menjadi murid!”. Kalau diterima resmilah Anda menjadi muridnya. Insyallah beliaulah yang akan bertanggungjawab dihadapan Allah dan Para NabiNya kelak di akhirat.

 

Advertisements
28 April 2013

Peran Salihin

Dalam surat Al Fatihah setiap dipanjatkan ada doa , ” Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yakni jalan orang yang Kau beri nikmat. Bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan jalan orang yang sesat ! “.

Pertanyaanya siapakah orang yang diberi nikmat? Allah mewahyukan dalam surat An-Nisa’ , 69 : Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. 

Orang-orang yang dijamin nikmat bukan kepalang (garansi Tuhan) itu adalah 1) Nabi-nabi; 2)  Para shiddiiqiin ; 3)  Orang-orang yang mati syahid; 4)  Orang-orang yang saleh. Diantara empat golongan orang ini – jujur – manakah yang paling mudah diakses dengan tepat dan akurat? Pernah ketemukah kita dengan para nabi?  Siapakah orang yang siddiq selain Abu Bakar Asiddiiq?  Manakah orang-orang yang mati syahid selain para syuhada di jaman Nabi hidup? Siapakah orang-orang saleh itu?

Diantara pertanyaan-pertanyaan itu yang mudah dijawab dan ditindaklanjuti tentu yang terakhir. Logikanya, orang yang saleh lebih mudah kita temukan dan temui di jaman pasca ditinggalnya rasul Allah. Meski harus merangkak untuk menemukan dan menemui tetaplah jadi kewajiban agar bisa mengaplikasikan doa fatihah itu. Orang yang saleh? Apa, siapa dan bagaimana orang saleh itu?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa kata saleh berasal dari bahasa Arab yang bermakna , 1. taat dan bersungguh-sungguh dalam beribadah ; 2. suci dan beriman.  Dengan arti begini , sudahkah kita menemukannya? Gampang-gampang susah menentukannya. Siapakah orang-orang saleh ini? Kok, ngebet sekali sih mau menemukannya? Lho, ini penting dan fatal menyangkut selamat atau tidak , nikmat atau tidak di akhirat nanti! Sebab orang yang saleh inilah yang satu-satunya bisa diakses dengan mudah (meski sulit juga memilah dan meilihnya). Sebab Nabi Muhammad nabi terakhir sudah berpulang 16 abad yang lampau, demikian juga para siddiqin. Ya, kalau orang-orang  bernama Muhammad dan  Sidiq ya banyak!

Mari kita lihat betapa urgen (pentingnya) peran orang-orang saleh ini. Dalam surat Al – Kahfi , ayat 17 dinyatakan ,Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya”. 

Pemimpin yang memberi petunjuk adalah وَلِيًّا مُرْشِدًا ( waliyam mursyida; lihat terjemah Kitab Al-Quran). Dialah yang akan memberikan petunjuk agar kita tidak sesat sebab dia berilmu dan alim. Inilah yang disebut kemudian dengan istilah Para Alim Ulama. Orang-orang yang mampu memberikan petunjuk jalan sesuai ilmunya Nabi Muhammad SAW kepada jalan akhirat yang akan kita lalui. Inilah ulama sebenar-benarnya, yang masuk  pada kriteria Al Ulama  Waristatul Anbiya’ . Pesan Nabi Muhammad  yang populer kurang lebih , ” Ikutilah aku, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan al-ulama’  waristatul anbiya’!.

Carilah dia, pilah dan pilih, temukan segera sebelum ajal datang. Kalau sudah menemukan pegang erat-erat , akrabi (kumpulono; bhs. Jawa) ,  jadikan teman akrab( bersahabat) lahir dan batin. Inilah ejawantah ( aplikasi/ perwujudan) salah satu butir TOMBO ATI , bahkan telah dinyanyikan artis religi yaitu si  Opik. ” Wong kang soleh kumpulono/ Berkumpullah dengan orang yang saleh!

Bersahabatlah / Berkumpullah lahir dan batin. Memang berkumpul lahir tentu terbatas pada dimensi ruang dan waktu. Limited, tidak bisa intens. Beliau ke kamar mandi masak kita ikut! Beliau kumpul dengan istrinya, masak kita mau nimbrung! Ah, yang benar aje…kata Bang Rhoma! Lalu bagaimana bersahabat dengan beliau dalam dimensi batin? Hemmm, It’s Unlimited!

Alhamdulillah hi robbil alamin!

27 April 2013

Islam Turunan

Postingan ini tergelitik oleh pertanyaan teman FB , “sodara “ijin kan saya bertanya # jika kamu terlahir bukan dr keluarga muslim dan lingkungan yg bukan muslim,, bagaimana anda menilai Islam dan apakah Islam itu agama yg paling benar slain agama yg anda yakini…”

8tvbestintheworld.com.myKomentar dari pembaca beragam, kebanyakan berbelit-belit . Sedangkan jawaban saya ,” Maaf urun jawab : …maka agama warisan itulah yang dianggap benar, artinya jika saya lahir dengan ortu non islam apalagi besar di lingkungan non islam tentu saya meyakini kebenaran agama ortu saya itu titik. Inilah yang saya maksud agama warisan! Lebih jauh nanti saya akan urun rembug, sekarang waktunya pendek ..saya mau kerja…maaf ya menggantung! “.

Nah, tulisan ini urun rembugnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kita beragama ini adalah buah warisan atau turunan dari ibu bapak kita pada awalnya. Misal , saya yang beragama Islam. Saya tahu dan mendapatkan agama ini dari orang tua dan lingkungan sekitar bukan dari nabi Muhammad secara langsung sebab mereka beragama Islam. Hal ini senada dengan hadist , “Tidaklah seorang anak lahir melainkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tualah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi. (HR. Muslim).

Ada empat katagori pada ungkapan rasul di atas, yakni : 1) Fitrah ; 2) Yahudi; 3) Nasrani; dan 4) Majusi. Kata fitrah ,secara etimologi  berasal dari kosa kata bahasa Arab yakni fa-tha-ra yang berarti “kejadian”, oleh karena kata fitrah itu berasal dari kata kerja yang berarti menjadikan.sepadan dengan kata khalaqa dan anyaa yang artinya mencipta. Biasanya kata fathara, khalaqa dan ansy’a digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengertian mencipta, menjadikan sesuatu yang sebelumnya belum ada dan masih merupakan pola dasar yang perlu penyempurnaan. Pengertian sederhana secara terminologi menurut pandangan Arifin; fitrah mengandung potensi pada kemampuan berpikir manusia di mana rasio atau intelegensia (kecerdasan) menjadi pusat perkembangannya,[12]dalam memahami agama Allah secara damai di dunia ini. Lebih jauh  Arifin menyatakan yakni secara keseluruhan dalam pandangan Islam mengatakan bahwa kemampuan dasar/pembawaan itu disebut dengan fitrah Ada yang mengemukakan bahwa fitrah merupakan kenyakinan tentang ke-Esaan Allah swt, yang telah ditanamkan Allah dalam diri setiap insan. Maka manusia sejak lahirnya telah memiliki agama bawaan secara alamiah, yaitu agama tauhid. Istilah fitrah dapat dipandang dalam dua sisi. Dari sisi bahasa, maka makna fitrah adalah suatu kecenderungan bawaan alamiah manusia. Dan dari sisi agama kata fitrah bermakna keyakinan agama, yakni bahwa manusia sejak lahirnya telah memiliki fitrah beragama tauhid, yaitu mengesakan Tuhan. (http://makalahmajannaii.blogspot.com).

Saya setuju dengan pendapat Arifin tersebut yakni bawaan agama Tauhid. Yakni mengesakan Tuhan. Nabi Adam (ke- 1) mengesakan Tuhan. Nabi Idris, Nuh, dan seterusnya sampai Nabi Isa A.S mengesakan Tuhan. Belum populer disebut dengan Islam (secara struktural). Sehingga di zaman nabi Isa pun ( nabi urut ke- 24 )tidak disebut beragama Islam. Baru pada zaman Nabi Muhammad SAW (urut ke-25) maka rukun Iman dan rukun Islam dipopulerkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim menjadi tonggak  HANIFAN MUSLIMAN . Kata musliman di sini masih ditafsirkan lurus lagi berserah diri, (Islam maknawi  ) bukan diartikan agama Islam secara struktural. Sebab secara Struktural Islam mengajarkan kewajiban    Rukun Iman yang syaratnya  ada 6 dan  rukun Islam ada 5, yang pertama bersyahadat Ashaduallah i lahaillallah wa ashadu anna MUHAMMADAR RASULULLAH, dst. Ini maknanya bahwa Nabi Adam dan umatnya cukup hanya mengesakan Tuhan dengan tauhid yang diajarkan beliau sudah pasti disayangi Tuhan. Demikian pula Nabi Idris, Nuh dan seterusnya  bertauhid saja ala yang diajarkan Nabinya tentu sudah bisa disebut taat beragama Tuhan sampai kepada nabi Ibrahim cukuplah menjadi orang yang lurus dan berserah diri saja kepada Tuhan.

Lain persoalan setelah  Muhammad bin Abdullah. Konsep maknawi  Islam yakni lurus dan berserah diri (tauhid)  sempurna berbanding lurus dengan konsep Islam secara struktural yakni  bertahap diajarkannya wahyu Tuhan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad bin Abdullah  sampai pada haji wada’ dan sejak itu Islam telah sempurna menjadi agama batin( maknawi) dan lahir (struktural). Dengan demikian perkembangan kesempurnaan agama islam itu dimulai dari nabi Adam sampai kepada nabi Muhammad SAW.

Ibarat aliran air sungai (maaf ini hanya ibarat)  : air mengalir dari gunung lalu mengalir mengikuti cekuan parit sampai di desa Adam . Di desa ini ada penampungan yang disebut penampungan Adam. Penampungan ini struktur bangunannya belumlah bagus dan canggih masih apa adanya -sesuai kemampuan saat itu. Tetapi airnya masih air sungai itu juga. Dari penampungan ini diteruskan mengalir pada penampungan B, penampungan C dan seterusnya sampailah pada tujuan terakhir yakni penampungan di desa M. Penampungan di desa M  inilah sudah bagus, kuat dan canggih sesuai dengan tujuan dan rancangan Insyinyur ahlinya yakni membangun bendungan yang lebih dari sekadar penampungan yang disebut dengan DAM. Karena besarnya maka DAM ini diharapkan bisa mengairi sawah serta menjadi pusat air minum sedunia. Maka selesailah proyek Master Insyiyurnya!

Lalu sekarang kita ini bagaimana?  Kemanakah kita akan mencari air untuk kita manfaatkan? Tentu jawabnya terserah pada individu masing-masing. Kalau saya memilih yang bisa diakses dengan tepat dan akurat. Pilihan ini pada awalnya tentu diperkenalkan oleh orang tua saya . Pilihan ini mau tidak mau awalnya harus diterima tanpa reserve ( tanpa cadangan /pikir panjang) karena tidak ingin disebut anak durhaka kepada bapak ibu. Tetapi setelah dewasa , saya punya pikiran dan hati nurani yang bisa memilah dan memilih dengan tepat dan akurat. Saya memilih meneruskan pilihan orang tua yakni agama  Islam tetapi dengan  catatan. Lho, apa catatannya?

Saya tidak ingin sekadar meneruskan agama turunan. Saya harus memperbaharui MOU dengan pihak DAM pusat atau LISENSINYA sebab MOU dengan orang tua saya hanyalah untuk rumah atau sawah  orang tua. Sedang untuk mengalirkan  air  DAM itu ke dalam rumah saya haruslah menandatangani lagi perjanjian kedua belah pihak. Perjanjian pertama saya harus bersaksi bahwa memang benar Allah adalah Tuhan saya, dan saya harus menyaksikan juga bahwa Muhammad itu rasul Allah. Saya tidak ingin disebut penyaksi palsu. Ibarat di meja pengadilan, bagaimana saya bisa disebut menyaksikan padahal saya tidak pernah menyaksikan (melihat, mendengar, meraba dst). Tentu hal ini disebut saksi palsu. Saksi palsu tentu ancamannya lebih parah . Terima kasih! Semoga bisa dicerna!