Motivasi

Apa untungnya ketika harus memutuskan belajar lagi. Toh , sebenarnya Strata 1 sudah cukup untuk usia yang memasuki hampir 50 tahunan. Apalagi sudah pangkat pembina dan bergolongan empat A. Apa yang dikejar? Apa yang dihasilkan nanti? Jabatan ? Hemm, imposible. Bukannya menafikan sebuah kedudukan, namun faktor eksternal yang tidak memungkinkan. OK, so must go on!  Bukan meraih Eskudo ,lho!

Apa pasal? Ada pepatah populer menyatakan, ” Long Life Education ! ” Tapi belakangan  baru saya ketahui bahwa pernyataan  yang benar adalah  Life Long Education. Yakni pendidikan seumur hidup. Rumus Arab menyatakan berilmu( bukan mencari ilmu) sampai ke liang lahat.  Satu kalimat lain ,carilah ilmu sampai ke negeri cina.  Implikasi maknanya bahwa kalau saya beli Eskudo (apakah produk Cina atau Jepang), tetap tidak akan dan tidak saya bawa mati.  Ini yang menjadi motivasi utama. Paling warisan Eskudo itu akan jadi tumpangan yang hidup , rusak lalu di loak. Syukur tidak jadi warisan yang diperebutkan lalu sesama anak bermusuhan.

Motivasi berikut, bahwa ada anak-anak. Entah anak dalam arti denotatif atau pun konotatif. Yang jelas mereka tidak  disable. Buta mata, buta rasa. Mereka punya insting , naluri, karakter kuat  yang diwarisi dari orang tuanya. Secuil atau setitik gen karakter pun akan tampak pada diri anak. Lihat saja rambut, kuping, mata, cara jalan, hobi, insting, karakter mirip siapa? Andakah atau sang istri ? ( he..he…asal jangan mirip tetangga saja ,ya!) . Demikian pula hal yang abstrak. Misal, sifat ego, kaku, murah senyum, ramah, kuat daya pikir, suka musik, suka nonton televisi, senang baca, termasuk motivasi belajar yang kuat , deesbe , pasti akan turun temurun jatuhnya.    Sebuah motivasi yang terjalin tanpa sadar secara vertikal  atas dasar karakter gen terhadap – bapak/ibu kepada anak jasadnya.

Tidak menutup kemungkinan nilai motivasi ini tertular kepada anak didiknya karena  publik figur. Guru adalah publik figur yang para digma lama menyebut  digugu dan ditiru.  Mengutip konsep terkenal oleh Bapak Pendikan, Ki Hajar Dewantara, ” Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. 

Hal lain adalah BONEK. Bondo Nekat, berbekal nekat untuk mewujudkan sandangan baru bukan papan baru bukan pangan baru. Meski Sandang, Papan dan Pangan adalah hal yang urgen. Dulu ketika umur 12 tahun sandangannya adalah SD. Lalu diraih SMP dan  SMPP. Ketika dewasa dan mulai kerja bersandang DII. Nekat lagi berselempang DIII. Tak puas dengan itu S.PD ( Insyaallah tidak berkarakter Sarjana Pedalem Dosen). Mudah-mudahan yang ini bisa dilalui dengan lancar meski nekat terseok-seok menyingkirkan tantangan dalam diri (antara lelah , pesimis dan optimis). Amin!

( For my wife : peluk aku saat berboncengan agar dingin malam dan hujan menjadi saksi bisu sepanjang perjalanan dan mari kita raih bukan dengan eskudo! )

( For my child : you are inpiration and take motivation !)

Tags:

Tinggalkan Komentar Ya!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: