Archive for ‘Opini’

9 September 2018

Habis Gelap Terbitlah Terang

Saat pilkada DKI 2017, media mainstream atau media arus utama terus membentuk opini kita. Kedua kubu disekat dengan dua perbedaan yang sangat ekstrim. Bahwa kubu petahana itu menjadi protagonisnya, sedangkan penantangnya adalah antagonisnya. Hembusan media itu terus menerus menggempur ruang baca kita. Akibatnya, literasi kita menjadi sempit namun kuat menggumpal dalam pikiran sehingga opini kita tidak lagi fair, bisa-bisa darah pun membeku di otak. Tersugesti bahwa petahana itu tokoh yang memerankan kebaikan sebaliknya tokoh jahatnya adalah lawan politik petahana. Keadaan ini terus mengungkung kita bahkan sampai proses pilkada pun sudah selesai. (Memang dahsyat…media itu!!!)

Bentukan opini publik dari media mainstream tersebut dengan masif membentuk mindset, pola pikir masyarakat. Termasuk masyarakat di luar DKI dan bukan orang DKI yang tidak terkait langsung dengan pilih memilih gubernur DKI saat itu.( Review: Lucu juga sih…..ngapain mereka ikut campur, ya?)

Pola pikir seperti ini adalah pola pikir tidak wajar, keliru dan tidak ilmiah. Sebab, mindset kita terhipnotis oleh media yang tendensius (punya tujuan tertentu) atau info yang belum tentu kebenarannya alias hoax. Hoax itu bisa saja bersumber dari pro petahana atau penguasa. Bisa juga berasal dari pro oposisi atau penantangnya.

3)

sumber gb:multi-persada.com

Jika kita adalah warga yang suka menjunjung kebenaran informasi, maka kita tergolong orang yang intelek dan ilmiyah. Ini biasanya sifat orang yang berkecimpung dalam dunia akademik. Tidak mudah percaya dan selalu ingin bertindak secara ilmiyah. Langkah yang ilmiyah salah satunya adalah menggali informasi pendamping yang tidak sejalan dengan informasi awal. Singkat kata ada informasi dari media yang kiri. Carilah juga bagaimana menurut media yang kanan. Dengan begitu pola pikir kita akan menjadi jernih,  cerdas dalam berpikir dan bertindak, lalu hati nurani terang bercahaya oleh kebaikan. Insyaallah, selamat dari penyakit darah tinggi serta stroke! Amin……

8 September 2018

Sekrup dan Tawaf

Tampak dalam tayangan bahwa berjuta jemaah haji sedang tawaf. Kegiatan berlari kecil mengelilingi bangunan Ka’bah di sebelah kiri. Berlawanan arah jarum jam. Apa makna gerakan ini?hp_ctg99659-151006

Beranalogi dari gerakan membuka sekrup, akan diputar ke kiri untuk melonggarkan bahkan melepaskannya. Sebaliknya gerak ke kanan akan merapatkan atau menutup. Sederhana nyatanya, namun makna  dalam. Manusia harus mampu introspeksi yakni harus melonggarkan nafsunya. Melepaskan diri dari ikatan dunia. Lalu fokus pada sang pencipta.

Harapannya adalah dapat melepaskan diri dari cahaya gelap dunia lalu masuk ke dalam cahaya terang benderang Iman, Islam, dan Ikhsan, sebagaimana termaktup dalam salah satu doa tawaf, Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni dan amal shaleh yang dikabulkan dan perdagangan yang tidak akan mengalami rugi selamanya.

Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terkandung dalam dada. Keluarkanlah aku dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang. Ya Allah aku mohon padaMu segala hal yang mendatangkan rahmatMu dan segala ampunanMu selamat dari segala dosa dan beruntung dengan mendapat rupa-rupa kebaikan, berundung memperoleh surga, terhindar dari neraka. Tuhanku anugerahkan padaku dan gantilah apa-apa yang aku luput daripadanya dengan kebajikan dariMu.” 

Wallohuaa’lam!

 

8 September 2018

Ongkos Kirim 5000

Sudah dua hari yang lalu, kurs rupiah nyungsep ke Rp 15.000 terhadap dolar Amrik. Salah satu komentar netizen di twitter, itu hoax. Yang bener adalah beli rupiah 10 ribu, ongkirnya 5 ribu. wkwkwk….

Bisa jadi ini sebuah gaya bahasa ironi. Yakni gaya bahasa sindiran agar tidak menusuk hati. Model guyon, maksut maknanya serius. Bahwa netizen mulai bosan dengan kalimat yang baku seorang kritikus. Sebab kritik seorang pakar saja tak bisa menembus kuping pemerintah. Apalagi hanya seorang netizen, rakyat biasa yang hanya bergulat dengan kehidupan sesuap nasi. Belum lagi, banyak menteri yang  seharusnya menjaga marwah mandat dengan perkatan berbasis data, justru omongannya mencla-mencle model dagelan ludruk suroboyoon. Mosok rek, rakyat gak iso tuku daging kon mangan bekicot! Beras mahal ya suruh nawar! Tabiye mahal, orahin nanem bedidi! ( Dah, bahasa campur dah, Jawa ya Bali).

Lah, kalau rakyat mengharap langkah serius kok malah dagelan, ya gak usah jadi mentri kali. Tukang becak di prapatan juga bisa. Gak usah tinggi-tinggi sekolahnya sampai ke luar negeri segala. Lah menteri itu dipilih karena dirasa cakap menangani persoalan. Mampu, cakap, dan layak. Gitu, lho!!!!

Kalau gak mampu, mestinya cukup lapor, ” Pak Presiden gak sanggup saya. Mohon carikan pengganti saja!”

Cukup begitu saja, gak usah dagel apalagi ngeyel. Jadi rakyat gak niru. Iya toh?????

 

 

 

7 September 2018

Prostitusi (On Line)

isDunia maya (dumay) atau internet adalah nyata kemajuan teknologi. Hal ini pun tidak bisa kita hindari apalagi dijauhi. Yang pasti harus kita nikmati. Kapan lagi , kalau tidak sekarang?

Namun, ibarat sebilah pisau- berhati-hatilah menggunakannya. Pisau pada dasarnya bersifat netral. Tidak berpihak kepada sudut kiri maupun sudut kanan. Bila, ia dipegang tangan yang baik akan bermanfaat banyak. Untuk mengiris sayur di dapur bahkan memotong dadu daging sebagai lauk pauk. Sebaliknya, bila ia di tangan pembunuh akan menjadi luka tusuk yang menghilangkan nyawa orang lain. Penjara atau bui menjadi hotel prodeo tanpa fasilitas seperti koruptor yang dipenjarakan.

Menikmati dumay harus bijak. Jujur menikmati seperti hubungan sah suami istri. Ada ritmenya tersendiri antara memberi dan menerima dengan tulus seiirama emosi kerumahtanggan yang menyertai. Di sini dibutuhkan pengertian kedua belah pihak untuk langgengnya rumah tangga. Tidak ada titik kalah dan menang antara suami istri. Yang ada hanya bagaimana membawa biduk rumah tangga itu bersama-sama. Sedang kenikmatan begituan itu hanya satu titik taman untuk menghias sudut halaman rumah tangga.

Berbeda dengan kenikmatan semu, dalam lebel prostistusi(on line) misalnya. Pelangga hanya mikir begituan, pikiran sempit. Urusan rumah tangga jauh panggang dari api. Nikmat sesaat bisa dibeli. Kalau beruntung, tak kena penyakit kelamin, tetap aja dosa dilaknat Tuhan. Jadi berpikirlah dua kali, bila hati nurani sehat.

Bermain dalam dumay, janganlah sesaat. Berpikir sempit. Bisa beli,lalu nikmati sendiri. Masa bodoh dengan yang lain. Caci maki dituruti. Pencitran diri. selfi-selfi. Cekrek bagi-bagi . wajah mulus tanpa jerawat. Kenyataannya berbalik cermin. Kalau gak difoto gak afdol. Kurang nikmat. Kurang syurrrr!

Apa bedanya dengan prostitusi? Nikmat sesaat lalu syurrrr!!!!!

7 September 2018

Hayo, Tukar Harta!

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (Q.S HUD;15)

Betapa demokratisnya sang pencipta terhadap maklukNya. Terutama terhadap manusia, yang  secara kodrati bisa berpikir, mana yang pilihan baik dan pilihan buruk. Takdir manusia berjalan di atas kewajaran. Hukum sebab akibat adalah jalan takdir itu sendiri. Karena kita menggali tanah, maka akan ada lubang. Sebab kita menebangi pohon, akibatnya gundullah lahan tanaman. Ibarat kata seperti itu. Pendeknya apa yang kita perbuat akan menghasilkan akibat. Dalam filsafat lama,” Nandur pari, panen gabah!”. Filsafat Hindu menyatakan karma pala. Dalam agama Islam disebut pahala. Bahkan sebesar biji sawi pun kebaikan yang diperbuat pasti ada balasnya dari Allah. Kita mau berbuat sebiji sawi atau sebesar gunung hasilnya ya seimbang dengan laku kita. Bermalas-malasan mencari harta dunia, karena sudah cukup bila dapat sesuap nasi ya segitu dapatnya. Bila gencar dan bergairah untuk meraih segede gunung ya signifikan hasilnya.

Itulah hukumnya. Kita mau berbuat sekuat tenaga untuk duit, harta, dan perhiasan dunia akan dibalas oleh Allah dengan sempurna.

Tapi pertanyaannya, sekuat apa kita bawa harta dunia yang melimpah ruah itu? Sampai umur berapa kita mampu menikmati harta benda, perhiasan dunyo brono itu, meski milik kita sendiri, bahkan hasil jerih payah kita itu?

Jawabannya jelas. Pasti gak kuat bawanya. Atau paling banter sampai umur 60 tahun bisa menikmatinya. Umur selebihnya, makan kacang pun harus digerus halus sebab gigi sudah duluan musnah. Mana organ lain sudah sering masuk dokter. Apa boleh buat, kemanakah hendak diturut sang nafsu?

Ada jalan keluar untuk membawa harta kita ke dalam kubur. Juga bisa menikmati manisnya gula nati setelah maut menjemput.

Caranya, konversi. Ya, dimampatkan ke dalam bentuk lain. Bukankah teknologi komputer mengajari. Isinya dunia (rumah, mobil, lahan, bahkan pulau seisinya dan lain-lain) bisa kok dimasukkan ke laptop. Ke dalam bentuk soft copy. Dari bentuk dunia nyata yang butuh banyak ruang dan waktu, lalu bisa dimampatkan sekecil mungkin. He…he…iya kan?

Ini serius.Maka konversilah harta, perhiasan, dan kekayaan kita itu kalau mau kita bawa ke alam kubur. Konversi kepada perbuatan di jalan Allah.

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (Q.S 57;ayat 7)

Allah ngerti banget kalau kita masih butuh dunia. Maka firmanNya, sebagian dari hartamu. Nafkakanlah!

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.(QS. Al-Baqarah: 245)

Allah akan menkonversi harta kita di dunia fana ini dengan berlipat-lipat harta yang nanti bisa kita nikmati di alam kekal abadi. Inilah cara cerdas menikmati harta kita nanti. Wallohu a’lam.Amin!