Archive for September 8th, 2018

8 September 2018

Sekrup dan Tawaf

Tampak dalam tayangan bahwa berjuta jemaah haji sedang tawaf. Kegiatan berlari kecil mengelilingi bangunan Ka’bah di sebelah kiri. Berlawanan arah jarum jam. Apa makna gerakan ini?hp_ctg99659-151006

Beranalogi dari gerakan membuka sekrup, akan diputar ke kiri untuk melonggarkan bahkan melepaskannya. Sebaliknya gerak ke kanan akan merapatkan atau menutup. Sederhana nyatanya, namun makna  dalam. Manusia harus mampu introspeksi yakni harus melonggarkan nafsunya. Melepaskan diri dari ikatan dunia. Lalu fokus pada sang pencipta.

Harapannya adalah dapat melepaskan diri dari cahaya gelap dunia lalu masuk ke dalam cahaya terang benderang Iman, Islam, dan Ikhsan, sebagaimana termaktup dalam salah satu doa tawaf, Ya Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni dan amal shaleh yang dikabulkan dan perdagangan yang tidak akan mengalami rugi selamanya.

Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terkandung dalam dada. Keluarkanlah aku dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang. Ya Allah aku mohon padaMu segala hal yang mendatangkan rahmatMu dan segala ampunanMu selamat dari segala dosa dan beruntung dengan mendapat rupa-rupa kebaikan, berundung memperoleh surga, terhindar dari neraka. Tuhanku anugerahkan padaku dan gantilah apa-apa yang aku luput daripadanya dengan kebajikan dariMu.” 

Wallohuaa’lam!

 

8 September 2018

Ongkos Kirim 5000

Sudah dua hari yang lalu, kurs rupiah nyungsep ke Rp 15.000 terhadap dolar Amrik. Salah satu komentar netizen di twitter, itu hoax. Yang bener adalah beli rupiah 10 ribu, ongkirnya 5 ribu. wkwkwk….

Bisa jadi ini sebuah gaya bahasa ironi. Yakni gaya bahasa sindiran agar tidak menusuk hati. Model guyon, maksut maknanya serius. Bahwa netizen mulai bosan dengan kalimat yang baku seorang kritikus. Sebab kritik seorang pakar saja tak bisa menembus kuping pemerintah. Apalagi hanya seorang netizen, rakyat biasa yang hanya bergulat dengan kehidupan sesuap nasi. Belum lagi, banyak menteri yang  seharusnya menjaga marwah mandat dengan perkatan berbasis data, justru omongannya mencla-mencle model dagelan ludruk suroboyoon. Mosok rek, rakyat gak iso tuku daging kon mangan bekicot! Beras mahal ya suruh nawar! Tabiye mahal, orahin nanem bedidi! ( Dah, bahasa campur dah, Jawa ya Bali).

Lah, kalau rakyat mengharap langkah serius kok malah dagelan, ya gak usah jadi mentri kali. Tukang becak di prapatan juga bisa. Gak usah tinggi-tinggi sekolahnya sampai ke luar negeri segala. Lah menteri itu dipilih karena dirasa cakap menangani persoalan. Mampu, cakap, dan layak. Gitu, lho!!!!

Kalau gak mampu, mestinya cukup lapor, ” Pak Presiden gak sanggup saya. Mohon carikan pengganti saja!”

Cukup begitu saja, gak usah dagel apalagi ngeyel. Jadi rakyat gak niru. Iya toh?????