Archive for September 7th, 2018

7 September 2018

Prostitusi (On Line)

isDunia maya (dumay) atau internet adalah nyata kemajuan teknologi. Hal ini pun tidak bisa kita hindari apalagi dijauhi. Yang pasti harus kita nikmati. Kapan lagi , kalau tidak sekarang?

Namun, ibarat sebilah pisau- berhati-hatilah menggunakannya. Pisau pada dasarnya bersifat netral. Tidak berpihak kepada sudut kiri maupun sudut kanan. Bila, ia dipegang tangan yang baik akan bermanfaat banyak. Untuk mengiris sayur di dapur bahkan memotong dadu daging sebagai lauk pauk. Sebaliknya, bila ia di tangan pembunuh akan menjadi luka tusuk yang menghilangkan nyawa orang lain. Penjara atau bui menjadi hotel prodeo tanpa fasilitas seperti koruptor yang dipenjarakan.

Menikmati dumay harus bijak. Jujur menikmati seperti hubungan sah suami istri. Ada ritmenya tersendiri antara memberi dan menerima dengan tulus seiirama emosi kerumahtanggan yang menyertai. Di sini dibutuhkan pengertian kedua belah pihak untuk langgengnya rumah tangga. Tidak ada titik kalah dan menang antara suami istri. Yang ada hanya bagaimana membawa biduk rumah tangga itu bersama-sama. Sedang kenikmatan begituan itu hanya satu titik taman untuk menghias sudut halaman rumah tangga.

Berbeda dengan kenikmatan semu, dalam lebel prostistusi(on line) misalnya. Pelangga hanya mikir begituan, pikiran sempit. Urusan rumah tangga jauh panggang dari api. Nikmat sesaat bisa dibeli. Kalau beruntung, tak kena penyakit kelamin, tetap aja dosa dilaknat Tuhan. Jadi berpikirlah dua kali, bila hati nurani sehat.

Bermain dalam dumay, janganlah sesaat. Berpikir sempit. Bisa beli,lalu nikmati sendiri. Masa bodoh dengan yang lain. Caci maki dituruti. Pencitran diri. selfi-selfi. Cekrek bagi-bagi . wajah mulus tanpa jerawat. Kenyataannya berbalik cermin. Kalau gak difoto gak afdol. Kurang nikmat. Kurang syurrrr!

Apa bedanya dengan prostitusi? Nikmat sesaat lalu syurrrr!!!!!

7 September 2018

Hayo, Tukar Harta!

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (Q.S HUD;15)

Betapa demokratisnya sang pencipta terhadap maklukNya. Terutama terhadap manusia, yang  secara kodrati bisa berpikir, mana yang pilihan baik dan pilihan buruk. Takdir manusia berjalan di atas kewajaran. Hukum sebab akibat adalah jalan takdir itu sendiri. Karena kita menggali tanah, maka akan ada lubang. Sebab kita menebangi pohon, akibatnya gundullah lahan tanaman. Ibarat kata seperti itu. Pendeknya apa yang kita perbuat akan menghasilkan akibat. Dalam filsafat lama,” Nandur pari, panen gabah!”. Filsafat Hindu menyatakan karma pala. Dalam agama Islam disebut pahala. Bahkan sebesar biji sawi pun kebaikan yang diperbuat pasti ada balasnya dari Allah. Kita mau berbuat sebiji sawi atau sebesar gunung hasilnya ya seimbang dengan laku kita. Bermalas-malasan mencari harta dunia, karena sudah cukup bila dapat sesuap nasi ya segitu dapatnya. Bila gencar dan bergairah untuk meraih segede gunung ya signifikan hasilnya.

Itulah hukumnya. Kita mau berbuat sekuat tenaga untuk duit, harta, dan perhiasan dunia akan dibalas oleh Allah dengan sempurna.

Tapi pertanyaannya, sekuat apa kita bawa harta dunia yang melimpah ruah itu? Sampai umur berapa kita mampu menikmati harta benda, perhiasan dunyo brono itu, meski milik kita sendiri, bahkan hasil jerih payah kita itu?

Jawabannya jelas. Pasti gak kuat bawanya. Atau paling banter sampai umur 60 tahun bisa menikmatinya. Umur selebihnya, makan kacang pun harus digerus halus sebab gigi sudah duluan musnah. Mana organ lain sudah sering masuk dokter. Apa boleh buat, kemanakah hendak diturut sang nafsu?

Ada jalan keluar untuk membawa harta kita ke dalam kubur. Juga bisa menikmati manisnya gula nati setelah maut menjemput.

Caranya, konversi. Ya, dimampatkan ke dalam bentuk lain. Bukankah teknologi komputer mengajari. Isinya dunia (rumah, mobil, lahan, bahkan pulau seisinya dan lain-lain) bisa kok dimasukkan ke laptop. Ke dalam bentuk soft copy. Dari bentuk dunia nyata yang butuh banyak ruang dan waktu, lalu bisa dimampatkan sekecil mungkin. He…he…iya kan?

Ini serius.Maka konversilah harta, perhiasan, dan kekayaan kita itu kalau mau kita bawa ke alam kubur. Konversi kepada perbuatan di jalan Allah.

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (Q.S 57;ayat 7)

Allah ngerti banget kalau kita masih butuh dunia. Maka firmanNya, sebagian dari hartamu. Nafkakanlah!

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.(QS. Al-Baqarah: 245)

Allah akan menkonversi harta kita di dunia fana ini dengan berlipat-lipat harta yang nanti bisa kita nikmati di alam kekal abadi. Inilah cara cerdas menikmati harta kita nanti. Wallohu a’lam.Amin!